Langsung ke konten utama

Dealing with family about your career

two person standing on gray tile paving
sumber : unsplash.com
Barusan banget ikut menyimak ig live dari @careerclass_id tentang Dealing with family about your career yang diisi oleh masgun. Aku belajar banyak banget dari perjalanan hidup beliau yang membuat beliau seperti hari ini.
Kadang atau bahkan sering, kita melihat seseorang sebagai produk jadi tanpa kita tahu apa latar belakang yang menjadikan seseorang menjadi saat ini. Ternyata, dibalik keberhasilan/kesuksesan/kematangan seseorang saat ini, ada pengalaman hidup yang turut serta  membentuknya. Dari cerita masgun, saat beliau semester 7/8 gitu, beliau mengalami masa-masa ‘galau’. Beliau menggalaukan diri sendiri yang sebenarnya sukanya apa, maunya kemana, dsb. Sehingga, beliau mengambil keputusan saat itu untuk menunda lulusnya. Keputusan ini tentu dikomunikasikan dengan orangtua lebih dulu dan orangtua menyetujuinya. Satu tahun perpanjangan itu beliau gunakan untuk mengeksplor dirinya lebih jauh lagi karena selagi masih bergelar mahasiswa banyak banget opportunitynya. Beliau internship, ikut kegiatan sosial, naik gunung, pergi ke pulau lain, dsb. Beliau lakukan itu semua dalam rangka ingin mengetahui sebenarnya dirinya minatnya kemana. Menurut beliau masa-masa single ini, adalah masa-masa untuk membuat keputusan ekstrem. Seperti pindah company, pindah karir, naik gunung, keliling Indonesia, dsb. Karena hal-halitu sulit dilakukan jika sudah menikah. Hal itu sah-sah aja dilakukan jika masih single dalam rangka menemukan diri sendiri karena saat ini yang menanggung resikonya hanya diri sendiri. Beliau mengatakan saat bekerja/magang di company beliau berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Hasilnya memang kerjaan bagus dan memuaskan, mendapatkan gaji, networking, namun beiiau merasa tidak bahagia/jiwanya tidak puas. Jadi, hanya merasa cape kerja dan senang ketika mendapatkan gaji. Di bulan Juli 2014 tepat 3 bulan setelah beliau lulus, beliau berhasil menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Hujan Matahari”. Beliau mengurus penerbitan buku tersebut dengan dibantu oleh ebebrapa teman dekatnya. Teman dekat beliau sangat support untuk membantu beliau. Maka ini penting juga untuk memiliki circle pertemanan yang supoort. Sehingga, jika dibandingkan dengan bekerja yang sebelumnya sudah pernah dirasakan saat magang, beliau merasa bahwa dengan menulis beliau lebih bahagia.  berbeda , beliau merasa jiwanya terisi, dan ya merasa ‘ini jawabannya’. Sehingga, semenjak beliau lulus kuliah di tahun 2014, beliau memutuskan untuk menjadi penulis dengan segala konsekuensinya.
Namun apakah ini sudah selesai ? oh tentu belum, beliau harus bisa meyakinkan orangtuanya juga tentang pekerjaannya. Orangtua beliau menginginkan beliau untuk kerja sebagai PNS/BUMN. Namun, setelah beliau mengenali karakter dirinya sendiri, beliau tidak mau. Sehingga inilah tantangan beliau untuk bisa menjelaskan ke orangtua. Beliau termasuk orang yang seama itu jarang curhat ke orangtua. Namun, beliau memberikan diri untuk mau gamau harus menjelaskan ke orangtua. Sebelum menjelaskan, beliau menyiapkan berbagai bahan untuk nanti menjelaskan seperti mindmap rencana hidup, rekening ATM, dan berbagai barang hasil karyanya saat magang. Beliau menjelaskan rencana hidupnya sekitar 10 th ke depan, beliau menjelaskan rencana menikah tahun sekian meski belum tahu sama siapa tapi ini penting karena untuk menyiapkan psikologis orangtua dan juga mungkin biaya, beliau menjelaskan tujuan-tujuan hidupnya, dan beliau juga menjelaskan bahwa beliau tidak ingin menjadi PNS/di BUMN, beliau lebih memilih menjadi penulis. Ketika menjelaskan itu, beliau sambil menunjukkan rekening dari hasil penjualan bukunya yang ternyata dapat dikatakan sangat cukup. Karena beliau berhasil meyakinkan orangtua bahwa dengan menulis masih dapat hidup sejahtera, orangtua beliau pun me acc pilihan beliau. Beliau mengatakan bahwa penting untuk memberitahu orangtua tentang rencana-rencana kita agar ketika orangtua mendoakan kita, doanya lebih detail. Doa yang kita panjatkan, sama dengan yang orangtua panjatkan. Semoga dengan begitu, Allah meridhoi mimpi-mimpi kita. Karena jangan sampai, circle terdekat kita (keluarga, pasangan, sodara) menjadi hambatan terbesar kita. Seharusnya mereka menjadi pendukung nomor satu dan support system kita.
Beliau kemudian menjelaskan lagi, sebenarnya orangtua ingin kita hidup sejahtera sehingga orangtua m kita ya ke pekerjaan yang menurut mereka dapat membuat mereka sejahtera. Sedangkan, kita dan orangtua hidup di zaman yang berbeda. Mereka tidak tahu pekerjaan-pekerjaan baru zaman sekarang, maka itulah tugas kita untuk memberitahu mereka dengan menjelaskan detail pekerjaannya seperti apa. Mungkin dengan begitu, orangtua menjadi lebih paham dan menjadi percaya bahwa dengan pekerjaan itu kamu bisa sejahtera. Selain itu, tanyakan juga ke mereka apa yang membuat mereka bahagia. Seringkali jawaban mereka simpel. Misal dengan kamu bisa pulang sekali seminggu.Tanyakan juga apa yang membuat mereka bangga kepada kita. Misal dengan kamu gini gini gini. Selain itu, misal jika nanti menikah maunya calonnya kaya apa, orangmana, lalu pesta pernikahannya kayagimana, dsb. Meski misal dari 10 pilihan yang kamu ajukan yang di acc hanya 6 tidak apa-apa. Sisanya kamu nurut dengan keinginan orangtua. Dengan begitu, kamu masih menjadi anak yang nurut ke orangtuanya. Penting sekali untuk menyamakan persepsi dan frekuensi dengan orangtua agar tidak terjadi kesalah pahaman karena ketidaktahuan mereka atau karena kita malas menjelaskan. Maka, kalau bisa cerita saja ke orangtua tentang ya apapun yang lagi dirasakan sekarang. Tidak hanya bercerita saat bahagianya saja, tetapi juga saat kamu lagi terpuruk/sedih. Dengan begitu, orangtua merasa selalu dilibatkan dan dibutuhkan oleh anaknya dalam segala kondisi. Karena setua apapun kita, jika orangtua masih ada posisi kita tetap sebagai anak. Sehingga kita tetap berperan sebagai anak kepada orangtua. Meski ya sebenarnya ini berbeda-beda caranya bagi setiap orang.
Aku belajar banyak dari sharingnya masgun, di masa-masa krisis ini banyak hal-hal yang harus kita putuskan dan kebanyakan dari keputusan ini bersifat permanen. Ketika kita memutuskan akan hidup dengan siapa, keputusan ini tentu akan menggema sampai anak cucu nanti. Ketika kita memilih pekerjaan pun demikian. Pekerjaan apa yang membuatmu bisa bahagia menjalaninya sampai kamu tua nanti. Karena jika pekerjaan itu dilakukan dengan hati, maka selain gaji hanya lelah saja yang didapat. Sedangkan kita hidup tidak hanya skeedar melewati fase demi fase kehidupan. Ada hal-hal yang perlu kita isi di sana. Seperti kebermanfaatan untuk orang lain, peran kita di keluarga/masyarakat, dan termasuk kepuasan jiwa kita dalam melakukan pekerjaan itu. Segalanya memang butuh uang, tetapi uang bukan segalanya. Menurut masgun, dalam bekerja harus ada rasa bahagia dulu, urusan uang nanti mengikuti. karena dengan adanya perasaan bahagia, kamu lebih enjoy menjalaninya. Bekerja tetapi tidak rasa bekerja. Selain itu, kamu menjadi lebih ‘hidup sebagai manusia yang merdeka’ yaitu manusia yang mampu mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri dan berani bertanggung jawab.  Maka, keputusan-keputusan hidup yang akan diambil  harus benar-benar harus dilakukan secara sadar dari keinginan diri sendiri bukan orang lain karena akan menggema seumur hidupmu. 
"jangan memilih antara orangtua atau pekerjaan, tetapi perjuangkanlah dua-duanya"
Rumah, 21 Juni 2020

Komentar

  1. Terima kasih sudah menulis ini kak :)

    BalasHapus
  2. "jangan memilih antara orangtua atau pekerjaan, tetapi perjuangkanlah dua-duanya"

    Aku suka banget bagian ini. Banyak teman-teman yang merasa kesulitan menjelaskan kepada orang tua. Beruntungnya kalau orang tua juga berpikir terbuka. Keren artikelnya!

    Salam kenal yaaa :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya bener banget, karena sebenarnya orangtua hanya perlu dijelaskan dan diyakinkan.
      salam kenal juga ya :)

      Hapus
  3. Ini bagus banget sharingnya mba!
    Dulu juga pengen banget fokus di dunia media nulis, selain jadi penulis pengen juga jadi reporter dll gitu. Tapi, orang tua gak setuju dan harus kuliah yang lebih "jelas" masa depannya kata mereka.
    Sayang sih, saat itu aku gak bisa memperjuangkannya dan kurang bisa meyakini orang tua.
    Tapi, setidaknya masih bisa dekat di dunia yang kita cintai saja udah bersyukur.

    Semoga generasi baru baca ini supaya menginspirasi mereka!

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga itu yang terbaik ya mbakk, semangat2 !

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seramnya Ilmu Biomedik Dasar (IBD)

Di kampus saya, ada lima fakultas yang termasuk ke dalam rumpun ilmu kesehatan, yaitu FK, FKG, FF, FIK, dan FKM. Tentu bukan tanpa tujuan, UI membangun sebuah gedung yang bernama gedung rumpun ilmu kesehatan tempatnya 5 fakultas tersebut. Salah satunya adalah untuk melancarkan terselenggaranya mata kuliah campuran dari 5 fakultas tersebut. Mata kuliah campuran pertama yang saya dapatkan adalah Ilmu Biomedik Dasar (IBD) 4 sks. Saya sekelas dengan teman-teman 5 fakultas tersebut. Satu kelas isinya 20an orang.
Kata kating, mata kuliah ini menyeramkan. Kenapa ? Karena mata kuliah ini katanya susah, sks nya gede, tugasnya banyak, dan tentunya sekelas dengan mahasiswa fakultas lain yang menimbulkan rasa nervous. Dan ternyata benar hehehe. Tetapi tidak semenyeramkan tu koq 😊 begini penjelasannya.
Definis Ilmu Biomedik Dasar (IBD) Ilmu Biomedik Dasar adalah sebuah mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa rumpun ilmu kesehatan, karena mata kuliah ini mempelajari dasar-dasar dari manusia,mempelaja…