Langsung ke konten utama

Melawan Keterbatasan

pengurus SSC. dokumentasi pribadi

Kalau kata Andrea Hirata, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu"
Kalau kata A. Fuadi, "Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil"
Kalau kataku, "Bermimpilah, karena ketika satu impianmu tercapai, kamu akan melemparkan mimpimu lebih jauh lagi. Dengan begitu, kamu akan terus bertumbuh"

Malam ini sharing dengan adik adik SSC (Sago Scholarship Care) dari SMAku cukup membuat semangatku naik lagi. 
Aku cukup tersentil dengan kalimat mas an, "jika nanti kalian sudah sukses, bisa kuliah di universitas yang diimpikan apakah itu saja yang ingin kalian capai ?kan engga. Cobalah belajar bersyukur dengan tidak hanya mengucapkan Alhamdulilah, tapi juga dengan membantu adik-adik kalian buat bisa masuk  kuliah juga. Dengan kalian membantu adik-adik kalian, suatu saat nanti akan menjadi pohon kebaikan. Jika sekarang kalian menemui berbagai rintangan buat masuk perguruan tinggi, seperti orangtua, biaya, dsb. Coba hadapi, jangan dulu menyerah, pasti ada jalan. Kalian bisa cerita ke kami yang disini. Nanti, ketika kalian sudah kuliah dan membantu adik-adik dan melihat adik-adik kalian ternyata bisa masuk ke universitas, bisa jadi orang penting di sana, bisa ikut lomba ke luar negeri, dsb akan ada rasa bangga yang tidak bisa didefinisikan"

Aku setuju dengan pernyataan mas an tadi. Bagiku syukur tidak hanya dengan ucapan Alhamdulilah saja. Tetapi makna syukur bagiku adalah memanfaatkan dengan maksimal apa yang aku peroleh. Misal aku diterima di universitas yang aku impikan, aku bersyukur dengan membantu adik-adik SSC karena aku ingin mereka juga bisa kuliah. Misal kita diberi kesehatan, maka kita bersyukur dengan memanfaatkan kesehatan kita untuk hal-hal yang berguna misalnya dengan berolaharga, beribadah,, membantu orang , dsb. 
Banyak juga dari adik-adik SSC yang dengan segala keterbatasannya ingin sekali berkuliah. Ada yang tidak disetujui orangtua, ada yang karena biaya. Tapi aku melihat juga tidak sedikit adik-adik di SSC yang bisa berdamai dengan keterbatasannya itu kemudian berusaha untuk melawan keterbatasan itu. Meskipun ya pasti butuh semangat juang yang tinggi ! No kaleng-kaleng perjuangannya.
Aku jadi teringat dengan sistem pembelajaran di UI yang menggunakan student centered learning yang terdiri dari collaborative learning (CL) dan problem based learning (PBL). Keduanya berbeda namun sama-sama membuat mahasiswa menjadi belajar untuk mencari materi sebanyak-banyaknya. Dengan sistem pembelajaran seperti ini, mahasiswa lah yang menjadi pusatnya bukan dosen. Jadi ketika belajar di kelas, dosen hanya sebagai fasilitator kami sekelompok berdiskusi.  Bahan diskusinya dari kami sendiri yang mencari. Pembelajaran Collaborative learning (CL) ibarat seperti sedang membuat mobil. Ada yang nyari bannya, ada yang nyari kerangkanya, ada yang nyari mesinnya, dsb kemudian saat masing-masing disatukan jadilah mobil. Nah disini setiap anak mempunya tanggung jawab sendiri untuk mencari materi sesuai dengan jatahnya. Pencarian materi ini dibebaskan oleh dosen asal tetap berada di sumber rujukan. Namun dengan dibebaskannya mencari materi sebanyak-banyaknya tentang sebuah topik, apa yang kita pelajari jadi luas. Tidak hanya sebatas itu. Tetapi beda jika kita hanya mendengarkan dosen, mungkin kita tidak akan lebih banyak tahu lebih dalam tentang topik yang disampaikan. Model pembelajaran seperti itu membuatku berpikir bahwa belajar itu tidak dibatasi, belajar itu ya tergantung dari kamu mau mengeksplore sejauh apa, kalau kamu belajar sedikit ya kamu akan dapat sedikit ilmu dan jika kamu belajar banyak ya kamu akan lebih banyak dapat ilmu.  Kemudian aku berpikir bahwa yang membatasi diri kita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Kitalah yang membatasi diri kita untuk tidak mau baca lebih banyak, kita yang membatasi pikiran kita bahwa kita tidak mampu padahal belum juga dicoba, kita yang membatasi diri kita untuk berusaha lebih. Maka, jika ingin berubah lebih baik menurutku yang perlu diperbaiki adalah mindsetnya dulu. Hancurkan dulu mindset bahwa tidak ada dana berarti tidak bisa kuliah, padahal kan masih banyak jalan lain jika masih beusaha. Hancurkan dulu mindset bahwa kuliah hanyalah untuk orang-orang yang pintar. Padahal kan menjadi pintar butuh usaha. Maksimalkan ! Pintar itu tidak serta merta tetapi sebuah proses. Hancurkan dulu tembok perasaan "aku ga mampu, aku ga bisa". Semua orang memiliki kesempatan yang sama. Tinggal kita saja yang mau mengambil kesempatan itu atau melewatkannya.
Menurutku penting juga sih untuk menerapkan sebuah growth mindset , yaitu sebuah mindset bahwa apapun bisa dipelajari. Dengan menerapkan mindset tersebut, kita menjadi tidak mudah menyerah dengan apa yang sedang dipelajari karena memang perlu proses untuk menjadi bisa.
Saat skripsi, aku juga pernah dinasihati sama dospemku, "Destin coba aja dulu, jangan overthinking". Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan dosenku ketika aku mulai overthinking. Dan ternyata ucapan beliau ini membuatku lebih berani ntuk berbuat dan untuk hasilnya yasudah nanti belakangan yang penting kita sudah berusaha. 
Memang ya, dalam setiap momen, setiap orang memiliki keterbatasan yang harus dilaluinya. Dengan melawan keterbatasan, kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kita menjadi lebih kuat, lebih berani, lebih bertanggung jawab, dan tentu saja mau membela mimpi-mimpinya. 
Dalam hidup memang kita tidak bisa hanya pasrah sebelum berusaha, kalau pasrah sebelum berusaha 
itu namanya menyerah. Tetapi pasrah kalau sesudah berusaha itu namanya tawakal :) 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra'd:11)

Rumah, 10 Juni 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...