Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Hidup di Jakarta

Dokumentasi pribadi Kata orang, hidup di Jakarta itu keras. Biaya hidupnya mahal. Kata orang, hidup di Jakarta itu tingkat stressnya tinggi, pergi pagi pulang malam, begitu siklusnya setiap hari. Ditambah lagi dengan drama di jalan-bermacet-macet ria. Mula dari Desak-desakan di KRL, desak-desakan di angkot, hingga ramai orang berlalu lalang menggunakan sepeda motor yang semakin membanjiri jalanan Jakarta. Tapi Kata sebagian yang lain, hidup di Jakarta itu enak, mudah mendapatkan pekerjaan, gajinya tinggi, apa apa ada dsb. Ya, mungkin karena mereka sudah menikmati jakarta. Walaupun begitu, banyak orang yang berhasil survive hidup di Jakarta. Yang setiap hari desak-desakan di KRL, di angkot, mengendarai sepeda motor, dan sebagainya. Dengan tujuan meraih asa. Banyak orang yang pantang menyerah hidup di Jakarta dengan segala kemewahannya, namun tetap berpegang teguh pada apa apa yang sudah ditanam sejak kecil oleh orangtuanya : prinsip hidup. Karena tak jarang, orang yang b...

Resensi Buku "Pergi"

Shadow economy masih menjadi hal yang asing bagi masyarakat awam. Apa itu shadow economy ? Itu adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam. Black market, underground economy. Ekonomi jenis ini sangat jarang dibahas di lingkungan publik, ya karena ekonomi jenis ini tidak terlihat namun nyata adanya. Banyak bisnis besar di negeri ini dikuasi oleh orang-orang shadow economy . Ya, segala jenis bisnis, tak peduli haram atau halal. Tak peduli merugikan orang lain atau tidak. Ada perubahan ranah bisnis dari shadow economy dahulu dengan sekarang. Jika kita berbicara tentang perjudian, prostitusi, perdagangan narkoba, itu adalah masa lalu shadow economy.   Sedangkan shadow economy masa kini berkiprah dalam hal pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhur, hingga penemuan di dunia medis. Semua hal tersebut dikendalikan oleh shadow economy . Mereka tidak dikenali masyakarat, tidak diliput di media massa. Kekuasan d...

Tentang Perawat di Negeri Ini

Dokumentasi Pribadi Menjadi perawat berarti berkomitmen untuk merawat orang lain, berkomitmen untuk dengan sepenuh hati menolong orang, berkomitmen untuk melakukan tindakan sesuai dengan ilmu pengetahuan, serta bersedia mengupgrade ilmu dan skill dengan tetap mengikuti pelatihan. Menjadi perawat berarti harus rela menghabiskan waktunya untuk orang lain. Ketika dibutuhkan orang lain harus siap sedia. Menjadi perawat, tidak mengenal tanggal merah. Baginya, semua tanggalan berwarna hitam sekalipun hari raya idul fitri. Perawat tetap berdinas seperti biasa, melayani pasien seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Karena penyakit pasien pun tidak mengenal tanggal merah bukan ? Ah ya, itulah perawat. Pengorbanannya begitu besar demi untuk melihat orang yang dirawatnya bisa kembali segar. Tak ada kebahagiaan yang lebih berarti dari sembuhnya pasien yang dirawatnya. Sebuah kebanggan tersendiri yang mungkin orang lain tak dapat memahami. Kamu tahu perawat ? Sayangnya, masih banyak ora...

Masa Bimbingan Dua Bulan

Kelompok mabimku saat wawancara ke ketua BEM FMIPA  Menjadi mahasiswa baru selain beradaptasi dengan kegiatan akademik, juga harus bisa beradaptasi dengan kegiatan non akademik. Ternyata, kegiatan non akademik mahasiswa sangat banyak sekali. Mulai dari organisasi, kepanitiaan, UKM, lomba-lomba, volunter , dan sebagainya. Sesuatu yang baru saya temui di sini. Di SMA pernah mengikuti organisasi, namun rasanya pasti berbeda dengan di universitas. Kegiatan-kegiatan tersebut juga sangat bermanfaat untuk pengembangan diri kita terutama softskill . Sesuatu yang tidak dipelajari di bangku akademik dan dituntut harus dimiliki untuk keperluan kehidupan pasca kampus. Menjadi mahasiswa baru, tentu sangat asing dengan kehidupan non akademik kampus. Sehingga, dari fakultas ada sebuah program mabim (masa bimbingan) untuk mahasiswa baru untuk mengenalkan lebih dalam rutinitas kegiatan non akademik di fakultas. Selain itu, dengan adanya mabim menjadikan   antar mahasiswa baru saling ...

Academic Life : Tentang Student Centered Learning

  Perjuangan telah dimulai, jangan sampai menyiakan-nyiakan kesempatan ini. Menjadi mahasiswa baru nursing school yang katanya terbaik se-Indonesia tentu memiliki rasa kebanggaan tersendiri. Bukan apa-apa, tetapi karena saya bisa belajar dari sumber terbaiknya. Namun, menimba ilmu di sini memiliki konsekuensi yang setara dengan gelar fakultas ini sebagai nursing school terbaik. Awal menimba ilmu di sini, saya sedikit kaget dengan sistem belajarnya karena sungguh jauh berbeda dengan masa SMA. Sistem pembelajaran di sini menggunakan sistem Student Centered Learning, yaitu pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Itu artinya, mahasiswa yang aktif mencari ilmu, dosen hanya menjadi fasilitator agar mahasiswa tetap on the tract . Ada dua metode yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu Centered Learning (CL), dan Problem Based Learning (PBL). Pada metode CL, mahasiswa akan mencari sumber sesuai dengan topik yang telah diberikan. Mahasiswa dalam satu kelas akan dibagi lagi menja...

Masa Adaptasi Sang Perantau Baru

Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2015 Perpindahan adalah sesuatu yang memberatkan. Meninggalkan rumah dan seisinya, meninggalkan lingkungan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ah ya, perpindahan memang terkadang mengundang kesedihan. Agustus 2015 saya resmi menjadi perantau asal desa yang nun jauh di sana. Perantau yang baru pertama kali ke kota. Perantau ilmu yang berharap kelak mimpinya menjadi nyata. Masa awal perpindahan adalah masa adaptasi. Mulai dari adaptasi di kos, lingkungan baru, teman baru, dan sistem perkuliahan yang pasti berbeda dengan zaman SMA dulu. Saya berangkat ke Depok dengan teman-teman PERHIMAK UI dan ibu saya. Awalnya saya hanya mengenal beberapa dari mereka. Ya, mereka adalah keluarga pertamaku di tanah perantauan. Tempat pulang di kala rindu menikam perasaan. Bahkan para perempuan PERHIMAK UI angkatan saya, banyak yang satu kos. Hal ini memudahkan saya untuk menghilangkan rasa homesick saya. Setelah daftar ulang, semua euforia mahasis...

Pergi Untuk Kembali

Foto di Karanganyar. Dokumentasi Pribadi Sore itu, 5 Agustus 2015 adalah sore terakhir sebelum saya berangkat ke tanah perjuangan. Ada rasa sedih yang menyeruak dada, juga ada rasa haru yang menggetarkan jiwa. Saya yang selama ini belum pernah berpisah dengan keluarga, harus memutuskan untuk berpisah dengan mereka. Inilah konsekuensi lain dari impian yang tercapai, perjuangan yang tiada henti. Namun, semilir angin merasuk jiwa tatkala saya ingat petuah dari bukunya Ahmad Fuadi tentang orang yang keutamaan orang yang merantau untuk menuntut ilmu. Bahwa orang yang merantau akan mendapatkan hal yang lebih besar, kelurga akan digantikan dengan keluarga juga yang ada di tanah rantau. Saya yakin, inilah awal bagi saya untuk menjadi manusia yang lebih baik.Saya pergi, pergi untuk kembali. Aku pergi,untuk kembali. Aku pergi,untuk menemukan jalan pulang. Tak perlu khawatir,aku akan baik baik saja. Aku pergi,untuk menuntut ilmuNya yang begitu luas. Aku pergi,untuk berpr...