Langsung ke konten utama

Masa Adaptasi Sang Perantau Baru

Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2015

Perpindahan adalah sesuatu yang memberatkan. Meninggalkan rumah dan seisinya, meninggalkan lingkungan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ah ya, perpindahan memang terkadang mengundang kesedihan. Agustus 2015 saya resmi menjadi perantau asal desa yang nun jauh di sana. Perantau yang baru pertama kali ke kota. Perantau ilmu yang berharap kelak mimpinya menjadi nyata.

Masa awal perpindahan adalah masa adaptasi. Mulai dari adaptasi di kos, lingkungan baru, teman baru, dan sistem perkuliahan yang pasti berbeda dengan zaman SMA dulu. Saya berangkat ke Depok dengan teman-teman PERHIMAK UI dan ibu saya. Awalnya saya hanya mengenal beberapa dari mereka. Ya, mereka adalah keluarga pertamaku di tanah perantauan. Tempat pulang di kala rindu menikam perasaan. Bahkan para perempuan PERHIMAK UI angkatan saya, banyak yang satu kos. Hal ini memudahkan saya untuk menghilangkan rasa homesick saya. Setelah daftar ulang, semua euforia mahasiswa baru hilang sudah ketika rangkaian kegiatan awal mahasiswa baru menyambut para maba dengan ramahnya.

Kampusku dijuluki kampus perjuangan. Masuknya penuh perjuangan, ketika sudah menjadi mahasiswa pun tidak lepas dari perjuangan. Menjadi mahasiswa baru di kampus ini cukup menjadikan saya mahasiswa yang tiba-tiba super sibuk. Bagaimana tidak, hampir setiap hari berangkat ke kampus untuk mengikuti kegiatan awal mahasiswa baru (kamaba). Rangkaian kamaba banyak sekali. Mulai dari Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM), latihan paduan suara, display UKM se-UI, Orientasi Kehidupan Kampus (OKK UI), dan Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF). Orientasi Belajar Mahasiswa dilaksanakan selama tiga hari. Saat itu saya melaksanakan OBM di FISIP dan FEB. Saya ditempatkan satu kelas bersama dengan mahasiswa dari fakultas lain, yang semuanya masuk UI melalui jalur SIMAK UI seperti saya. Kegiatan OBM bermacam-macam, mulai dari mengenali sistem pembelajaran CL (Centered Learning),PBL (Problem Based Learning), borang-borang yang akan digunakan ketika di kelas nanti, belajar dan praktik critical thinking, games, dan lain-lain. Dari sini saya mengakui bahwa teman-teman saya hebat-hebat. Critical thinking mereka jalan, pendapat mereka saat berdiskusi juga keren. Fyi, di kelas ini kebanyakan mereka berasal dari Jebodetabek, hanya saya dan satu teman saya yang berasal dari Jawa. But, Its okay. Kita semua berteman dengan baik. Dari OBM ini saya menyadari ada beberapa hal yang harus saya upgrade dari diri saya, diantaranya critical thinking dan kemampuan public speaking saya yang masih tergolong pas-pasan.

Hari-hari setelah OBM adalah hari-hari yang setiap hari harus ke Balairung untuk menikmati latihan paduan suara, display UKM se-UI, dan orientasi kehidupan kampus (OKK UI). Dari OKK inilah sudah mulai muncul tugas-tugas. Mulai dari tugas pribadi untuk membuat esai dan upload foto ke twitter, juga ada tugas kelompok. Untuk tugas kelompok, kami harus mencari kelompoknya sendiri. Teman-teman SMA saya sudah mendapatkan kelompoknya. Sehingga saya mencari kelompok sendiri melalui facebook. Saat itu ada grup facebook untuk mahasiswa baru UI 2015, dari situlah saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa Sastra Cina FIB. Setelah mendapatkan satu orang, dia terus mencari oranghingga genap 10 orang dan semuanya orang Jabodetabek. Hanya saya yang berasal dari Jawa. Saat itu, saya belum memiliki aplikasi line. Maklum, selama SMA saya hanya menggunakan fitur SMS untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hingga saat kuliah harus membutuhkan aplikasi-aplikasi chatting yang lebih modern seperti whatsapp dan line. Inilah kali pertama saya menggunakan aplikasi tersebut. Dalam satu kelompok OKK, ada project kelompok, saya lupa tema projectnya apa tetapi kelompok saya bagi-bagi coklat ke abang-abang ojek di Pocin sambil toss untuk menyalurkan semangat.

Sebelum hari H OKK UI, mahasiswa baru fakultas saya dikumpulkan oleh kakak-kakak panitia Mabim FIK UI untuk mendapatkan arahan tentang Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF). Kami semua menggunakan dresscode biru dongker. Kami disuruh kumpul di depan Balairung dengan berdiri yang diatur oleh kakak komdis sebelum akhirnya berjalan dan masuk ke gedung Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK). Inilah kali pertama saya masuk gedung ini. Setelah kami dipersilakan masuk, ada beberapa agenda di sana antara lain penambutan oleh panitia, berkenalan dengan teman-teman, mentoring, dan pemberian tugas yang super banyak yang menuntut para mahasiswa baru untuk nantinya terbiasa dengan tugas kuliah yang banyak, tidak cepat mengeluh, dan latihan mengatur waktu. Akan tetapi, masa awal adalah masa adaptasi. Apalagi ditambah lagi rasa homesick yang membuat perjuangan ini rasanya semakin berat saja. Ini merupakan masa-masa dimana saya merasa ingin pulang dan culture shock. Tetapi Allah Maha Mengetahui. Dia tidak akan menguji hambaNya di luar kemampuan hambaNya. Walaupun dilanda rasa homesick dan culture shock saya perlahan-lahan bisa beradaptasi dengan semua itu. Saya menjadi sadar, bahwa rumah adalah rindu yang tiada pernah berakhir. Bahwa orangtua adalah pendukung nomor satu atas semua kondisi anaknya. Saya juga semakin menghargai kata “pulang”, karena tidak bisa setiap hari saya merasakan pulang.
Perjalanan ini masih panjang bukan ?
Ini baru awal, jangan menyerah
Di depan sana, akan ada sesuatu yang lebih indah.

Kebumen, 27 Agustus 2018

#30DWC#30DWCJilid14#Day 6


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...