Langsung ke konten utama

Kepada Lelaki Kedua Setelah Bapak

Kepadamu, lelaki kedua setelah bapak,

Aku tau, masa-masa ini adalah masa-masa kritis bagi hidup kita.
Kegundahan tentang masa depan: kehidupan setelah lulus dan teman hidup.
Aku tahu, segundah apapun kamu, kamu tetaplah kamu.
Pendiam yang selalu pandai menyimpan semuanya sendirian.
Hingga sebesar apapun hal yang kamu simpan,
Tak pernah sedikitpun terungkapkan.

Kepadamu, lelaki sabar kedua setelah bapak,

Aku tau, kamu adalah orang sabar.
Sabar dalam menghadapi semuanya,
mulai dari kehidupan kuliah yang penuh perjuangan
Hingga tentang perasaan.
Sabar, mungkin itu senjata pamungkasmu
Sabar, mungkin itu adalah salah satu perjuanganmu
dan dengan sabar, mungkin itu juga adalah penolongm

Kepadamu, lelaki berprinsip kedua setelah bapak,

Aku tau, dimanapun kamu
Kamu tetap memegang prinsip itu
Prinsip untuk tetap berjalan di jalan yang berliku
Namun menuju kemenangan itu
Segemerlap apapun kehidupan di sekitarmu
Kamu, tetaplah kamu
Sang pejuang ulung yang setia pada prinsip hidupmu

Kepada lelaki kedua setelah bapak,
Sesungguhnya aku tidak tahu, kamu itu siapa.

Depok, 18 Agustus 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H