Perjuangan telah dimulai, jangan sampai menyiakan-nyiakan kesempatan ini.
Menjadi mahasiswa baru nursing school yang katanya terbaik
se-Indonesia tentu memiliki rasa kebanggaan tersendiri. Bukan apa-apa, tetapi
karena saya bisa belajar dari sumber terbaiknya. Namun, menimba ilmu di sini
memiliki konsekuensi yang setara dengan gelar fakultas ini sebagai nursing school terbaik. Awal menimba ilmu
di sini, saya sedikit kaget dengan sistem belajarnya karena sungguh jauh
berbeda dengan masa SMA.
Sistem pembelajaran di sini
menggunakan sistem Student Centered
Learning, yaitu pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Itu artinya, mahasiswa
yang aktif mencari ilmu, dosen hanya menjadi fasilitator agar mahasiswa tetap on the tract. Ada dua metode yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu Centered Learning (CL), dan Problem Based Learning (PBL). Pada
metode CL, mahasiswa akan mencari sumber sesuai dengan topik yang telah diberikan.
Mahasiswa dalam satu kelas akan dibagi lagi menjadi 4-5 kelompok. Dalam satu
kelompok terdiri atas 4-5 orang yang disebut dengan focus group. Saya berikan contoh pemakaian metode CL. Misalnya hari
ini dalam kelas A membahas topik penyakit-penyakit kardiovaskuler. Karena jenis
penyakit kardiovaskuler banyak, maka penyakit-penyakit tersebut dibagi di setiap
kelompok focus group. Kelompok focus group yang satu dengan yang lain
akan membahas penyakit yang berbeda. Misalnya focus group 1 membahas penyakit acute
coronary syndrome, focus group 2
membahas Stroke, focus group 3
membahas coronary heart disease, focus group
4 membahas gagal jantung kiri. Setiap focus
group nantinya akan dibagi lagi materi yang akan dicari oleh masing-masing
anak. Misalnya si A kebagian mencari patofisiologi, si B mencari manifestasi
klinis dan faktor risiko, si C mencari pemeriksaan fisik, si D mencari pemeriksaan
laboratorium dan diagnostik, si E mencari farmakologi dan non farmakologi, dan
si F membuat nursing care plan. Ketika
semua mahasiswa sudah mencari materi yang dicari, di pertemuan selanjutnya
mahasiswa dari masing-masig focus group menjelaskan
materi yang telah dicari. Sehingga dalam satu kelompok, akan saling melengkapi
satu sama lain untuk menjadi utuh. Demikian juga dengan focus group kelompok lain, masing-masing anak dalam satu focus group akan menyebar dengan anak focus group lain dan membentuk grup baru
yang disebut dengan home group. Home group
ini terdiri masing-masing anak di setiap focus group. Nanti perwakilan anak dari setiap focus group menjelaskan materi focus
groupnya. Sehingga pengetahuan mahasiswa semakakin kaya.
Sedangkan untuk problem based learning (PBL), kami belajar dari sebuah kasus. Dari kasus
tersebut akan dianalisis bagaimana patofisologinya, apa faktor risiko dan
manifestasi klinisnya, pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan, dan membuat nursing care plan. Masing-masing
komponen tersebut akan dicari oleh masing-masing orang di focus group. Sebenarnya komponennya bisa macam-macam tergantung
kasus. Untuk selanjutnya prosesnya sama seperti CL.
Dari dua metode pembelajaran ini sudah
sangat terlihat sekali bahwa pembelajaran ini berfokus pada mahasiswa. Dosen hanya
sebagai fasilitator ketika mahasiswa berdiskusi, dan menjaga mahasiswa agar
diskusinya ataupun materi yang dicari tetap on
the tract. Saat pertama kali berdiskusi seperti ini ada rasa tidak nyaman,
mungkin karena saat SMA sangat jarang belajar dengan berdiskusi. Apalagi di
sini juga dituntut untuk berpikir kritis saat diskusi maupun saat membuat tugas,
apalagi saat presentasi. Saat diskusi materi, dosen akan menstimulus mahasiswa
dengan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang masih kurang atau yang belum
dicantumkan oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa menjadi terstimulus untuk
mencari materi tersebut.
Namun, selama tiga tahun saya di
sini, dengan metode pembelajaran seperti ini membuat saya lebih mandiri karena
belajar tidak tergantung dosen, tetapi tergantung diri sendiri. Kedalaman materi
yang akan dicari dan dipelajari pun tidak tergantung dosen, tetapi bergantung
dari diri sendiri. Semakin dalam materi yang dicari pasti hasilnya semakin
bagus. Secara tidak sadar, saya menjadi terbiasa dengan sistem belajar yang seperti
itu. Belajar dengan mencari materi sendiri sedalam-dalamnya dan
sebanyak-banyak, lalu menjelaskan materi yang sudah dicari kepada teman
sehingga pemahaman saya pun menjadi meningkat. Karena materi tidak pernah
dibatasi, sehingga pada beberapa mata kuliah pun bingung belajarnya sampai sejauh
mana. Tetapi itu tidak menjadi masalah serius, toh tidak ada ruginya belajar.
Kalau
kata salah seorang dosen saya, “Selama masih jadi mahasiswa, belajar yang
banyak di sini. Jangan takut salah. Jangan sampai rugi karena telah menyia-nyiakan
untuk belajar banyak hal di kampus ini.”
Kebumen, 28 Agustus 2018
#30DWC#30DWCJilid14#Day7
Komentar
Posting Komentar