![]() |
| UI Opendays 2014. Dokumen pribadi |
If you don't dream big, theres no use of dreaming. If you dont have faith, theres nothing worth believing. Let your dreams be bigger than your fears, your actions louder than your words, and your faith stronger than your feelings- Kimberly Bryant Hunter
Apa kamu percaya bahwa mimpimu akan menjadi nyata jika kamu terus mengusahakannya ?
Apa kamu percaya bahwa keajaiban akan datang kepada mereka yang selalu berusaha ?
Saya adalah orang selalu percaya akan hal tersebut. Bahwa sekuat apapun kita, ada yang lebih berkuasa atas diri kita, ada yang lebih paham untuk mengarahkan hidup kita, yaitu Dia. Dia Yang Maha Kuasa Atas Segalanya.
Depok, 7 Agustus 2015
Sebuah nikmat yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata saat saya bisa menjadi bagian dari the yellow jacket, sesuatu yang tak pernah terlintas di benak anak bawang ini saat masuk SMA. Seorang anak bawang dengan segala keterbatasan yang ingin sekali mewujudkan mimpinya saat itu. Walaupun anak bawang tersebut bukan juara kelas, bahkan hampir tidak pernah ikut 10 besar di kelas, dan bukan orang yang memiliki banyak juara lomba. Namun saat itu, anak bawang itu dengan yakin sepenuh hati berkomitmen untuk mewujudkan impiannya bagaimanapun jalannya, karena anak bawang itu yakin bahwa yang dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi adalah kerja keras dan doa yang tak pernah putus.
Hari ini adalah hari daftar ulang mahasiswa baru UI jalur SBMPTN dan SIMAK UI 2015. Saya dan teman-teman saya yang lain dari PERHIMAK UI berangkat bada subuh dari Kutek ke Balairung. Kampus UI masih terlihat cantik dengan kerlap kerlip lampunya yang berada di setiap bangunan dan jalan. Ketika sampai di Balairung, saya takjub karena ternyata sudah banyak orang yang mengantri mengambil nomor antrian*padahal daftar ulang dimulai sekitar pukul 7 atau 8. Setelah mengambil nomor antrian, saya dan teman-teman duduk cukup lama untuk menunggu giliran. Saya duduk di kursi-kursi yang berada di luar Balairung yang menghadap ke danau. My dream come true batin saya. Tidak mudah untuk bisa mendapatkan satu kursi di sini. Butuh perjuangan yang tidak biasa dan semangat yang tidak ala kadarnya. Perjalanan saya untuk bisa berada di sini pun bukan perjalanan yang sebentar.
Juli 2013,
Masih teringat sekali saat kelas XI, dimana penjurusan IPA IPS baru saja dimulai. Saya berada di kelas yang berbeda dari kelas X. Atmosfer kelasnya berbeda, teman-temannya pun berbeda. Mereka tampak semangat sekali dalam belajar, pun ketika ulangan. Hingga tak sadar, saya telah tertinggal jauh dari mereka. Saya nyaris tertinggal di belakang. Mulai dari pelajaran kimia tentang mol yang saya remidi melulu, pelajaran fisika yang hampir saya tidak mengerti itu maksudnya apa, pelajaran bahasa inggris yang saya juga tidak terlalu suka, nilai ulangan yang hanya sesuai standar, dan rangking yang terlempar jauh dari sepuluh besar. Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang dia sangat ambisius untuk memiliki niali yang baik di raport.
[Kamu kok ambisius sekali dapat nilai bagus ketika ulangan ?] ya walaupun cara mendapatkan nilai bagusnya dengan cara yang baik atau tidak, yang penting mendapatkan nilai bagus. Dan jawaban teman saya adalah [iya, saya ingin keterima undangan]. Disitu saya berpikir keras.
Saya tetap berusaha dengan usaha saya, dengan kemampuan saya, namun rasa-rasanya saya tidak lebih baik dari siapapun. Saya merasa benar-benar tertinggal jauh. Saya tidak tahu arah tujuan saya. Hingga saya bertemu dengan salah satu orang yang pertama kali mengenalkan saya tentang UI.
Oktober 2013,
Dia adalah salah satu kakak kelas SMA yang berkuliah di UI. Saat itu, salah satu teman saya yang bernama setya frida janjian dengan kakak tersebut untuk memberikan nasihat kepada kami tentang perkuliahan. Saat SMA, kondisi akademik beliau juga tidak jauh dengan saya. Namun setelah selesai UN, beliau langsung fokus belajar untuk ujian test SBMPTN. Saat itu, beliau juga sudah diterima di bimbel B3 yang ada di Depok milik PERHIMAK UI, namun karena beliau sakit tipes beliau tidak jadi berangkat ke Depok. Beliau hanya les pada seorang guru dan belajar sendiri. Selain itu, beliau juga terus berdoa dan minta doa kepada siapapun yang menanyakan beliau akan kuliah dimana karena kita tidak tahu dari mulut siapa doa itu akan terkabul. Dari beliau semangat saya menjadi bertambah, saya menjadi tahu arah tujuan saya.
Maret 2014,
Saya menyadari kekurangan saya dalam hal akademik. Sehingga saya diam-diam mulai menata strategi dan jadwal belajar untuk belajar SBMPTN ketika saya duduk di kelas XI semester 2. Saya membeli buku SBMPTN sebagai panduan menjawab soal-soal. Saya juga mendwonload beberapa soal dan materi dari internet. Intinya saat itu saya sudah mulai belajar SBMPTN dengan mengulang materi dan menjawab soal. Lalu, ketika liburan kenaikan kelas XI ke kelas XII, saya menyusun jadwal belajar saya selama satu tahun. Saya mengira-ngira ada berapa minggu dalam setahun, ada berapa mata pelajaran yang harus dipelajari,dan ada berapa materi yang harus diselesaikan. Sehingga saya bisa menyicil materi-materi kelas X dan XI. Bukan karena saya terlalu berambisi, namun karena saya menyadari ketertinggalan saya di bidang akademik, dan track record nilai rapor yang saya yang tidak terlalu bagus. Saya tidak ingin menghancurkan mimpi saya sendiri dengan tidak melakukan usaha apapun. Saya juga ingin merubah hidup saya. Selain itu, saya menyadari masuk UI tidaklah mudah. Saya selalu berpikiran bahwa pesaing saya di luar sana selalu belajar setiap hari, sehingga saya mau tidak mau harus belajar juga. Bangun tidur pegangannya buku, sebelum tidur juga pegangannya buku. Saya mulai menjadi orang yang menghargai proses.
Juli 2014,
Kelas XII, adalah masa-masa galau menentukan jurusan dan universitas. Saya sebenarnya sudah fix memilih farmasi UI sebagai pilihan pertama saya. Hal ini dikarenakan saya menyukai pelajaran yang banyak membaca dan menghitungnya sedikit. Saya mulai memahami ternyata otak saya lebih gampang loading untuk pelajaran-pelajaran yang seperti itu. Kemudian saya cari-cari informasi tentang farmasi UI. Kebetulan, keponakan tetangga saya yang di Depok adalah mahasiswa jurusan farmasi UI. Hingga saat dia ke sini untuk berlibur saya memanfaatkan momen itu untuk bertanya-tanya tentang farmasi. Ternyata di farmasi juga belajar ilmu biomedik dasar seperti yang lain, ternyata di farmasi banyak praktikumnya yang dimana sebelum memulai praktikum harus membuat jurnal terlebih dahulu, farmasi juga ada profesinya selama satu tahun setelah lulus sarjana, dan sebagainya. Namun, kuota farmasi UI sangat sedikit, yaitu sekitar 60an mahasiswa pada tahun 2015.
Februari 2015,
Bulan ini adalah bulan pendaftaran SNMPTN, sebuah seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri menggunakan nilai raport. Pada tahun saya, setiap siswa berkesempatan untuk mendaftarkan dirinya di tiga pilihan. Saya sendiri sudah yakin akan memilih UI di pilihan pertama, namun saya tidak kepikiran untuk memilih apa di pilihan kedua dan ketiga saya. Saat itu, saya hanya ingin ke UI bukan yang lain. Ada seorang teman yang sempat bertanya ke saya waktu itu,
[Des mau daftar dimana ?]
[UI. Kamu dimana ?]
[di Univ X, UI ketinggian]
Hati saya merasa tertusuk waktu itu. Bagaimana tidak, yang bertanya ke saya adalah seseorang yang selalu juara kelas. Namun saya berusaha untuk stay cool. This is my dream. I dont care what the people said about that. I believe that, If I hard work I will be apart of UI student. Allah tidak tidur. Saya abaikan saja perkataan teman saya tadi. Namun, kecemasan pun mulai hadir, ketika ada teman lain yang juga mendaftar di universitas yang sama yang nilai raportnya jauh lebih baik dari saya.
Saat hari pendaftaran, saya berdiskusi dengan ayah saya. Ayah saya kurang menyetujui jika saya memilih farmasi UI, kemudian ayah saya menyarakan masuk ke ilmu keperawatan UI saja. Sebuah jurusan yang sama sekali dulu tidak ada dalam pikiran saya, sebuah jurusan yang justru saya menghindarinya karena saya memang orangnya sedikit takut dengan hal-hal yang berbau dalam diri manusia. Namun entah kenapa saat itu saya mengiyakan saja. Saya memilih ilmu keperawatan UI sebagai pilihan pertama saya, dan satu-satunya pilihan saya. Saya tidak memilih universitas lain dengan alasan saya tidak ingin disana. Walaupun mungkin saya memiliki kesempatan untuk bisa diterima yang lain, namun saya lebih memilih fokus kepada mimpi saya. Saya tidak ingin sedikitpun lari dari mimpi saya dengan mencari jalan yang lebih mudah untuk diterima di universitas yang bukan mimpi saya. Hingga pada akhirnya, saya hanya memilih ilmu keperawatan UI sebagai satu-satunya jurusan dan universitas yang saya tuju di SNMPTN.
Momen setelah pendaftaran SNMPTN adalah momen yang sangat menguatkan mental saya. Lika-liku perjuangan yang penuh dengan penolakan yang ternyata membuat saya bersyukur setelah melewati semuanya.
Bersambung...
Kebumen, 23 Agustus 2018
#30DWC#30DWCJilid14#Day2

Komentar
Posting Komentar