![]() |
| Di depan rektorat UI Agustus 2015. Dokumentasi pribadi |
Saya
sebenarnya tidak terlalu mengharapkan SNMPTN karena nilai raport saya yang
memang pas-pasan, ditambah lagi saya memilih UI yang high class. Rasa-rasanya kemungkinan untuk diterima melalui SNMPTN
sangat sedikit. Saya kemudian mengikhtiarkan jalan lain. Saya mencoba mendaftar
bimbel B3 PERHIMAK UI sebagai tempat belajar saya ketika sudah UN nanti sampai
tes SBMPTN. Namun saya gagal di ujian tulisnya. Kemudian ada lagi bimbel dari
PERHIMAK Bandung yang bernama “Super Camp”
namun saya juga gagal. Sedangkan teman-teman saya yang lain banyak yang
diterima di sana. Saya merasa sedih karena tidak bisa diterima di bimbel-bimbel
tersebut, namun saya juga semakin bersemangat karena masih ada kesempatan untuk
memperjuangkan.
Setelah
UN selesai, saya dan dua teman saya yang lain les di salah satu alumni UI yang
sudah bekerja. Saya les setiap hari selama 2 jam. Mata pelajaran yang diajarkan
hanya kimia, fisika, dan matematika. Sehingga saya pun kembali membuat jadwal belajar
sendiri di rumah. Saya menargetkan satu hari saya bisa menyelesaikan 1 bab di
semua pelajaran (matematika dasar, fisika, kimia, biologi). Untuk Bahasa
Inggris, Bahasa Indonesia, dan tes potensi akademik saya lebih banyak
menggunakan latihan soal karena memang materinya sedikit. Agar semua materi
yang saya pelajari lebih mudah diserap oleh saya, setiap selesai satu bab saya
langsung berlatih mengerjakan soal yang berkaitan dengan bab tersebut. Setiap
minggu juga saya latihan try out sendiri.
Saya juga curi-curi waktu untuk mengerjakan soal-soal SIMAK UI yang katanya
susah. Alhamdulilah jadwal yang sudah saya buat berjalan sesuai dengan rencana.
Di
pertengah bulan Mei adalah pendaftaran SBMPTN dan SIMAK UI. Saya tetap memilih
UI di pilihan SBMPTN saya. Kali ini saya mengisi semua pilihan. Pilihan 1 ilmu
keperawatan UI, pilihan 2 kesehatan masyarakat UI, pilihan 3 ilmu keperawatan
UNPAD. Karena semua universitas yang dituju berada di regional 1, maka saya tes
SBMPTN di Bandung, tepatnya di SMK N 3 Bandung. Sedangkan untuk pilihan SIMAK
UI, pilihan 1 ilmu keperawatan, pilihan 2 kesehatan masyarakat, pilihan 3
biologi. Saya tes SIMAK UI di Yogyakarta karena yang dekat dengan rumah saya. Selama
persiapan SBMPTN di tempat les saya tidak pernah mengadakan try out sehingga saya dan dua teman saya
yang lain berinisiatif untuk melakukan try
out mandiri dengan mengambil soal dari buku-buku.
Pada
tanggal 9 Juni 2015 adalah hari tes SBMPTN bagi siswa yang belum keterima
SNMPTN dan merupakan hari daftar ulang bagi siswa yang sudah diterima SNMPTN. Pagi
ini saya bangun pagi dan bersiap-siap untuk tes SBMPTN. Saya menginap di rumah
saudara saya di daerah Ujung Berung dengan ibu saya. Ibu saya pula yang
mengantarkan saya tes di SMK 3. Tes dimulai pukul 08.00 dengan bahas tes
soal-soal kemampuan dasar (tes potensi akademik, matematika dasar, Bahasa
Indonesia, dan Bahasa Inggris). Entah kenapa saya merasa sulit sekali untuk
menjawab soal-soal tersebut. Di tengah mengerjakan soal saya sampai menitikkan
air mata karena saking susahnya. Saya tiba-tiba berpikiran yang tidak-tidak,
seperti bagaimana jika nanti saya tidak diterima lagi, bagaimana jika orang-orang
yang telah berjuang untuk saya kecewa, dsb. Saya merasa tidak maksimal
mengerjakan soal-soal tersebut. Bahkan saya hanya mengerjakan tiga soal Bahasa
Inggris. Selesai mengerjakan soal ada jeda istirahat sebelum melanjutkan untuk mengerjakan
soal kemampuan IPA. Saya pergi ke mushola untuk sholat Dhuha dan menangis
sejadi-jadinya karena tidak maksimal dalam mengerjakan soal. Soal kemampuan IPA
pun tidak beda susahnya dengan kemampuan dasar, saya hampir tidak bisa mengerjakan.
Empat hari setelah tes SBMPTN, saya harus
mengikuti tes SIMAK UI di Yogyakarta tepatnya di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
Saya ke sana bersama dengan ibu saya. Lagi-lagi ibu saya yang menemani saya
untuk tes. Sore harinya saya dan ibu saya mencari lokasi sekolahnya dan mengecek
ruangannya. Setelah itu, kami belum tahu akan menginap dimana. Dan ternyata
penginapan di daerah tersebut sudah penuh semua. Hari sudah mulai gelap,
sedangkan kami belum menemukan penginapan. Pada akhirnya saya teringat bahwa
teman SMA saya juga besok akan mengikuti tes UTUL UGM di Yogyakarta. Dia berada
di tempat kakaknya yang di Yogyakarta. Pada akhirnya, saya dan ibu saya
menumpang menginap di tempat kakak teman saya. Semoga kebaikan terus mengalir
kepada mereka yang telah menolong perjuangan saya.
Pagi harinya saya dan ibu saya
berangkat pagi-pagi untuk tes. Saya ternyata bertemu dengan beberapa teman satu
SMA saya yang lain. Dua teman saya juga memilih jurusan yang sama dengan saya
di pilihan pertamanya. Namun saya tetap stay
cool. Pertama, saya mengerjakan soal kemampuan dasar. Tipe soal SIMAK UI
berbeda sekali dengan tipe soal SBMPTN. Kemampuan dasar di soal SIMAK UI hanya
terdiri dari matematika dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Soal
Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisnya pun tidak semuanya bacaan, namun banyak
juga tata bahasanya. Sehingga saya lebih bisa untuk mengerjakan. Untuk
matematika dasar saya memang tidak terlalu mengerjakan banyak, sekitar 5 soal
saja. Namun untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris saya hampir mengerjakan
semua soal. Untuk kemampuan IPA juga tipe soalnya berbeda, di soal SIMAK UI ada
soal IPA Terpadu. Tetapi Alhamudulilah saya bisa mengerjakan soal-soalnya. Entah
kenapa otak saya begitu encer ketika mengerjakan soal SIMAK UI dibandingkan
mengerjakan soal SBMPTN kemarin.
Selain SBMPTN dan SIMAK UI, saya
juga mendaftar tes di salah satu perguruan tinggi di Solo dan Semarang. Pada
tanggal 26 Juni 2015 saya ke Solo untuk melakukan ujian tulis yang lagi-lagi
diantar oleh ibu saya. Tipe soal ini lebih mudah dikerjakan karena tipe soalnya
sama seperti soal UN. Saya mengerjakan semua soal ini. Hari saat tes adalah di
bulan ramadhan, saya berharap semoga di bulan yang berkah ini segala usaha yang
saya lakukan berujung pada muaranya.
Hari-hari setelah tes-tes tersebut adalah
hari-hari penantian sekaligus mempersiapkan mental untuk hasil. Seminggu setelah
tes di Solo, hasil pengumuman keluar. Jantung saya berdegup kencang ketika saya
memasukkan nomor pendaftaran saya. Alhamdulilah, saya lolos di seleksi ujian
tulis untuk masuk ke tahap selanjutnya, yaitu seleksi tes kesehatan. Satu
minggu setelahnya saya kembali ke Solo dengan ibu saya untuk melakukan tes kesehatan.
Pada awal Juli sudah keluar lagi pengumuman penerimaan. Alhamudulilah saya
sudah positif diterima di salah satu perguruan tinggi di Solo. Nama saya berada
di paling atas diantara daftar siswa yang lolos di jurusan yang saya pilih, ortotik prostetik. Saya senang sekaligus
terharu karena sudah diterima di sana. Namun, pengumuman ini lebih cepat
dibandingkan SBMPTN dan SIMAK UI. Jujur saya masih mengharapkan kedua tes
tersebut, akan tetapi pembayaran daftar ulang dilakukan sebelum pengumuman
SBMPTN. Saya dilanda kebingungan. Jika saya tidak mengambil yang di Solo, saya
takut jika saya tidak mandapatkan apapun, tetapi jika saya mengambil saya juga
takut kalau misalnya saya diterima SBMPTN ataupun SIMAK UI. Pada akhirnya, saya
mengatakan hal ini kepada ayah saya. Ayah saya hanya mengatakan “Sudah ambil
saja, kalau misal nanti kamu keterima SBMPTN atau SIMAK UI, lepas yang di Solo”.
Saya hanya kasihan kepada orangtua saya yang mengeluarkan uang banyak untuk
daftar ulang. Namun, akhirnya saya mantap untuk mengambil yang di Solo.
Pengumuman SBMPTN jatuh pada tanggal
9 Juli 2015. Di tanggal itu juga adalah hari pendaftaran ulang saya. Satu hari
sebelum daftar ulang, saya dan kedua orangtua saya ke Solo lebih awal untuk
mencari kos untuk saya. Saya pun sudah menemukan kos dan sudah membayar untuk
dua bulan. Sore hari pada tanggal 9, saya membukan laman SBMPTN. Saya sengaja
membuka setelah berbuka puasa, karena jika membuka jam 5 tepat, websitenya
biasanya down. Setelah saya
memasukkan nomor peserta saya, saya lemas setelah melihat Tulisan dengan huruf kapital berwarna
yang
ada di layar laptop. “Maaf, anda tidak dinyatakan lolos SBMPTN 2015. Tetap Semangat
😊
“. Oke, saya gagal SBMPTN. Solo
mungkin adalah tempat saya berlabuh, Solo mungkin adalah yang terbaik untuk
saya, batin saya kala itu. Masa ini adalah masa penerimaan bagi saya, saya
merasa sangat ikhlas kala itu, saya merasa benar-benar legowo, tidak merutuki
apa yang sudah saya terima. Walaupun saya tidak diterima SBMPTN, namun hati
saya tetap tenang. Saya merasa ni adalah momen penerimaan saya yang paling
ikhlas seumur hidup. Namun, hati saya kembali sakit saat
melihat teman-teman lain sudah diterima di universitas impiannya. Saya kembali
merasa kalah perang.
Pengumuman SIMAK UI seharusnya
tanggal 27 Juli 2015, tetapi tiba-tiba dimajukan menjadi 13 Juli 2015. Saya baru
mengetahui informasi tersebut hari itu juga. Namun saya tidak terlalu
bersemangat untuk membuka pengumuman tersebut. Pengumuman dilakukan pukul 17.00
namun saya membukanya hampir pukul 18.00. Saya tidak berharap terlalu banyak,
karena masuk UI memang susah. Setelah saya memasukkan nomor pendaftaran saya, laman
yang bertuliskan veritas, probitas,
iustitia bersorak ramai atas tulisan yang tertera di sana “Selamat, Anda
diterima sebagai calon mahasiswa baru Universitas Indonesia....”. Saya diterima
di jurusan ilmu keperawatan. Ya Allah Gusti,
ini seperti mimpi. Perasaan saya campur aduk antara senang dan bingung. Ayah saya juga
demikian. Pada akhirnya, saya memilih UI
sebagai tempat berlabuh saya selanjutnya. Kampus impian yang sudah terpatri
kuat di dalam hati. Kampus impian yang selalu menyalakan semangat untuk saya agar
tidak berhenti bermimpi.
Perjalanan panjang yang berliku pada
akhirnya terbayar sudah. Saya banyak belajar dari perjalanan saya. Bahwa ternyata,
untuk mewujudkan mimpi faktor utama yang menetukan keberhasilan bukanlah otak
yang cerdas, tetapi perencanaan yang matang dan sifat pantang menyerah. Perencanaan
yang matang berperan sebagai navigasi kita kemana kita akan melangkah, dan
sifat pantang menyerah berperan sebagai penguat kita saat kita diterpa badai
lelah. Selain itu juga harus yakin dan fokus dengan mimpinya. Tak peduli orang
lain berkata apa, apalagi kata-kata yang merendahkan tidak perlu didengar. Yang
penting kita berusaha semampu yang kita bisa. Lakukan usaha yang lebih dari
orang lain, lakukan usaha yang berbeda dari orang lain. Seperti toko yang buka
24 jam pendapatan yang diapatkan tentu berbeda dengan toko yang misalnya buka
hanya 12 jam bukan ?. Rayu Dia dengan
usaha yang tidak biasa dan doa yang tiada henti-hentinya. Perjuangan yang tidak
mudah ini juga mengubah saya menjadi orang yang menghargai proses dan waktu. Waktu
24 jam yang saya miliki tidak terbuang sia-sia, tetapi digunakan untuk
merealisasikan rencana-rencana. Proses yang panjang juga telah mengubah sifat
saya menjadi pribadi yang lebih berani bermimpi, berani mengambil risiko, dan
berani untuk mengubah hidup. Jangan pernah takut untuk melawan seribu orang bahkan
lebih. Saya percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah
usaha kita yang belum sampai. Allah itu Maha Adil, Dia tidak akan mengubah nasib
suatu kaum sebelum kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri. No action nothing happen, when you action
miracle happen.
Saya
dinasihati ayah saya untuk selalu bersyukur apapun yang terjadi karena manusia ini
seperti wayang yang sedang dilakonkan oleh dalang. Ada kalanya bahagia ada
kalanya sedih. Semua jalan cerita sudah dibuat oleh dalang, kita hanya
menjalaninya dengan ikhlas. Jangan sampai karena keberhasilan kita, kita jadi menganggap
bahwa itu adalah karena kerja keras kita. Bukan, bukan itu. Semua ini Kersaning
Gusti Allah.
Finally, saya
sudah menjadi bagian dari mahasiswa UI. Kampus impian ribuan orang. Kampus
terbaik yang akan mencetak generasi terbaik.
Namun,
ini bukan akhir. Ini adalah awal perjuangan selanjutnya.
What’s next ?
#30DWC#30DWCJilid14#Day3

Komentar
Posting Komentar