Langsung ke konten utama

Tentang Perawat di Negeri Ini

Dokumentasi Pribadi

Menjadi perawat berarti berkomitmen untuk merawat orang lain, berkomitmen untuk dengan sepenuh hati menolong orang, berkomitmen untuk melakukan tindakan sesuai dengan ilmu pengetahuan, serta bersedia mengupgrade ilmu dan skill dengan tetap mengikuti pelatihan. Menjadi perawat berarti harus rela menghabiskan waktunya untuk orang lain. Ketika dibutuhkan orang lain harus siap sedia. Menjadi perawat, tidak mengenal tanggal merah. Baginya, semua tanggalan berwarna hitam sekalipun hari raya idul fitri. Perawat tetap berdinas seperti biasa, melayani pasien seperti biasa, tidak ada yang berbeda. Karena penyakit pasien pun tidak mengenal tanggal merah bukan ?
Ah ya, itulah perawat. Pengorbanannya begitu besar demi untuk melihat orang yang dirawatnya bisa kembali segar. Tak ada kebahagiaan yang lebih berarti dari sembuhnya pasien yang dirawatnya. Sebuah kebanggan tersendiri yang mungkin orang lain tak dapat memahami.
Kamu tahu perawat ?
Sayangnya, masih banyak orang-orang di negeri ini sekalipun orang yang pernah dirawat menganggap perawat sebagai asisten tenaga kesehatan sebelah. Masih banyak yang mengira kalau perawat yang kerjaanya hanya mengganti infus, memeriksa tensi, mengatar ke ruang operasi saja. Padahal, itu hanya sebagian kecil dari tugas perawat. Padahal, perawat yang sebenarnya bukan begitu saja. Ya, mungkin potret seperti itulah yang tampak di kehidupan nyata. Nampak tak sama kedudukannya dengan tenaga kesehatan lain, padahal kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Ya, kita sejajar dengan tenaga kesehatan lain. Tetapi enapa yang tampak di lapangan seperti itu ?
Kalau kata salah seorang dosen saya, karena kita kurang menghargai diri sendiri. dengan berpakaian tidak rapi, dengan tidak percaya diri saat melayani, dengan tidak percaya diri saat berdiskusi dengan tenaga lain. Sehingga kita untuk sekedar mengutarakan pendapat tentang kondisi pasien pun tak berani.
Masih banyak hal yang harus diperbaiki dari performa perawat saat ini. Masih banyak hal yang harus diperjuangkan di dunia keperawatan. We are care not cure !

#30DWC#30DWCJilid14#Day9

Kebumen, 30 Agustus 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...