Langsung ke konten utama

Aliran Rasa "Persiapan Menjadi Ibu Peradaban"

Tahun 2019 merupakan tahun yang menegangkan bagi saya, karena tahun ini merupakan tahun terakhir saya kuliah S1. Walaupun sebenarnya nanti setelah S1 juga masih ada profesi yang pasti lebih menegangkan dari ini. Di tahun ini pula, saya mulai merencanakan dengan matang "mau ngapain setelah lulus ?" Pilihan itu meliputi kerja, lanjut S2, bisnis, atau nikah ? Nah saya pun tidak tahu pintu  yang mana dulu yang terbuka untuk saya  dari semua kemungkinan-kemungkinan tersebut. 
Bagi saya, satu hal penting harus digaris bawahi untuk mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah persiapan. Ya, persiapan. Persiapan ilmu, mental, fisik, agama, semuanya. Untuk persiapan kerja insha Allah sudah dipersiapkan sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. Untuk persiapan lanjut S2 juga sedang on the way. Nah kalau untuk persiapan nikah dan membangun rumah tangga, saya masih dalam tahap belajar. Karena bagaimanapun, menikah dan membangun rumah tanggal tidak sesimple itu. Bukan pula sebagai pelampiasan ketika kamu bilang "Aku lelah kuliah, mau nikah aja !" Eits, dari berbagai buku yang saya baca menikah tidak sebercanda itu gais. Itu pertanggung jawaban dunia akhirat, penentu kehidupanmu selanjutnya mau seperti apa, penentu anak-anakmu memiliki ayah/ibu yang seperti apa. Menikah adalah membangun peradaban. Tentu, tidak bisa dijalankan hanya dengan ilmu yang ala kadar. Gabisa mau nikah tapi gatau ilmunya, gatau gimana caranya milih pasangan yang baik yang sesuai dengan islam, gatau cara mengasuh anak agar dia menjadi anak yang shalih dan shalihah, gatau gimana cara menyenangkan istri/suami dsb. Semuanya perlu ilmu. 

Sehingga, karena saya sadar saya sudah berumur 20an tahun yang pasti cepat atau lambat masa penantian akan berakhir juga *ekhem..saya mulai mempersiapkan itu semua. Karena saya gamau ketika menikah nanti saya tidak tahu apa-apa. Apalagi perihal untuk mengurus dan mendidik anak. Saya tahu hal itu bukanlah yang mudah, apalagi untuk rumah tangga muda. Maka di tahun inilah, saya juga mulai menimba ilmu tentang "how to be a professional mom", dalam Institut Ibu Profesional. (IIP) .Awalnya saya kenal IIP dengan dikenalkan oleh teman satu lingkaran kebaikan saya. Dia bercerita tentang pengalamannya masuk IIP yang pada intinya dia bercerita bahwa di IIP bagus, rutin kuliah onlinennya, ada tugasnya juga tetapi tugasnya membuat kita berefleksi diri, terus nanti ada wisuda-wisudanya gitu dan ada tingkat-tingkatnya juga. Intinya begitu hehe. Nah dari cerita teman saya, saya menjadi penasaran dengan IIP. Kebetulan di awal tahun ini ketika IIP buka pendaftaran untuk peserta baru, lalu saya mencoba daftar. Lalu masuklah saya ke dalam grup. Sebelum menjadi member tetap, calon anggota IIP harus mengikuti kelas foundation dan matrikulasi.

1. Kelas foundation, merupakan kelas dasar bagi para calon anggota IIP. Kelas ini wajib diikuti oleh semua calon anggota IIP dan penentu apakah calon anggota IIP akan lanjut ke kelas matrikulasi atau tidak. Mengapa sih perlu ada kelas foundation ? Dalam sebuah kulwap, narasumber mengatakan bahwa agar nantinya calon anggota IIP memiliki pengetahuan dasar yang sama terkait dengan IIP. Seperti tata tertib anggota IIP, nilai-nilai IIP, cara menyaring informasi, dsb. Dari pengurus IIP sangat prepare sekali untuk memberikan materi kulwap. Materi selalu dishare sehari sebelum kulwap atau bahkan bisa beberapa hari sebelumnya. Jadi kita bisa baca-baca materi terlebih dahulu sebelum dimulai. Mungkin agar gelas kita ga kosong-kosong banget saat nanti narasumber memberikan penjelasan. Oh ya, selain itu juga para calon anggota bisa memberikan pertanyaan kepada narasumber sebelum acara dimulai. Sehingga nanti ketika kulwap, narasumber menjelaskan materi dan menjawab pertanyaan. First impression saya kepada IIP adalah rapi dan tertata.  Saya pun menjadi merasa senang menuntut ilmu di sini karena sangat terstruktur.

Setelah kelas foundation selesai, barulah dari pengurus akan membuka kelas matrikulasi. Kelas ini khusus untuk para anggota kelas foundation. Tetapi tidak semua anggota kelas foundation bisa mengikuti kelas matrikulasi. Alhamdulilah saya bisa diberi kesempatan lagi mengikuti kelas matrikulasi.

2. Kelas matrikulasi. Kelas ini merupakan kelas pengenalan awal sebelum menjadi anggota tetap IIP. Di kelas ini kemarin sudah dilaksanakan stadium generale di sebuah grup di telegram. Stadium generale ini dilakukan serentak di grup tersebut yang berisi para calon anggota IIP dari seluruh Indonesia. Masya Allah. Semangat para perempuan, baik yang sudah menikah ataupun belum menikah untuk menjadi ibu luar biasa sekali :). Walaupun di grup telegram sedikit riweuh karena memang orangnya banyak sekali tetapi saya tetap bisa mengikuti stadium generale ini dengan baik.

Pada intinya IIP ini sangat bermanfaat buat saya sejauh ini untuk persiapan kehidupan selanjutnya (re:membangun peradaban) walaupun saya belum tahu kapan saya akan menjalani masa-masa itu tetapi saya yakin masa itu lambat atau cepat akan datang. Sehingga hal terbaik yang bisa saya lakukan saat ini terus menyibukkan diri dalam melakukan kebaikan, salah satunya adalah menuntut ilmu. Karena membangun peradaban bukanlah pekerjaan mudah, bukanlah pekerjaan setahun dua tahun tetapi bertahun-tahun, memilih pasangan juga bukan atas ego pribadi lagi yang penting saya cinta, oh bukan itu ! Apakah dengan memilih si dia akan lebih dekat dengan surga, apa kabar anak-anak saya jika memiliki ayah si dia ?dsb dsb. Ya hal-hal substantif seperti itulah yang ada di kepala  saya sekarang.
Semoga ikhtiar saya menuntut ilmu di sini, saya bisa mendapatkan banyak hal sebagai bekal saya membangun peradaban. Semoga bisa mendapatkan banyak sudut pandang lagi dari para narasumber terakit dari persiapan ketika masih single hingga memiliki anak nanti.

"Mendidik anak bukanlah pekerjaan serabutan atau sambilan. Ia adalah bagian dari pekerjaan besar untuk membangun generasi pilihan. Maka alokasikan waktu, tenaga, dan ikhtiar terbaikmu untuk mereka. Kalau bukan kita orangtua, lalu siapa lagi yang akan membangun peradaban Islam terbaik di penghujung masa ?" (Aisyah, 2019) dalam buku Awe Inspiring US
#MatrikulasiIIPBatch7
#Ibuprofesional
#Aliranrasa

Depok, 26 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...