Langsung ke konten utama

Lingkaran Kebaikan

Rasanya sudah lama sekali saya tidak hadir di lingkaran kebaikan yang rutin dilakukan tiap pekan.  Rindu sekali rasanya berkumpul bersama mereka. Yang selalu setor hafalan tiap pekannya, yang  selalu membacakan sirah nawabi, dan yang selalu mengingatkan kebaikan untuk dijalani sehari-hari. 
Hari ini saya belajar dari kakak mentor terkait dengan "merasa cukup". Maksud dari merasa cukup di sini bukan tentang cukup dengan usaha kita yang segini-gini aja, atau ibaah kita yang segini-gini aja. Tetapi maksudnya adalah selalu merasa cukup dengan apa yang sudah kita dapatkan, jangan membanding-bandingkan dengan milik orang lain sebagai standar kesuksesan padahal membandingkan itu ga akan pernah ada ujungnya.

Manusia yang bijak kata ibu Septi Peni pendiri IntstitutIbu Profesional (IIP) bukan mereka yang terus membandingkan diri mereka dengan orang lain, melainkan mereka yang membandingkan diri mereka hari ini dengan diri mereka di hari kemaren. Apakah ada progress perbaikan ? 
Berprogreslah walaupun cuma sedikit, gapapa, pelan-pelan. Kalau kata orang Jawa alon-alon asal kelakon hehe.
Kebetulan teman saya di lingkaran kebaikan ini semuanya mahasiswa tingkat akhir yang sedang riweuh dengan skripsi. Ada yang masih berusaha mencari judul dengan membaca puluhan jurnal internasional. ada yang sudah mulai menemukan titik terang topik yang diajukan di acc, ada juga yang tinggal mengerjakan saja. 
Semoga hari demi hari kita berpogress ya. Baik untuk skripsi maupun target ibadah harian.
Ingat, jangan bandingkan progresmu dengan orang lain. Tetapi bandingkan dengan dirimu hari kemarin. oke ?

Depok, 15 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...