Langsung ke konten utama

Keputusan

Tanpa kita sadari hidup ini penuh dengan keputusan-keputusan. Sesederhana setelah kita bangun, mau ngapain setelah bangun mau sholatkah atau mau lanjut tidur lagi ? 
Tetapi setelah kita semakin dewasa ada keputusan-keputusan hidup yang harus diputuskan oleh diri sendiri dan keputusan-keputusan itu adalah keputusan yang permanen.

Saat kita akan lulus SMA. Di masa itu aku bingung mau melanjutkan univ mana, jurusan apa. Kalau misal aku belum diterima di tahun ini aku mau ngapain ? Teman-teman lain juga ada yang memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA Bahkan ada juga teman yang menikah selepas lulus SMA. Sebenernya ga masalah mau ambil pilihan yang mana, yang pasti setiap pilihan akan melahirkan konsekuensi. Aku dulu tidak paham dengan konsep ini. Yang aku tau dulu adalah aku memilih untuk kuliah untuk hidupku yang lebih baik. Ternyata, masa-masa itu sudah terlewat hampir 4 tahun yang lalu. 

Sekarang, masa itu terulang lagi namun dengan keadaan yang lebih kompleks. Selepas lulus kuliah mau ngapain ? Kerja, nikah, S2, bisnis, atau apa ? Kalau aku yang jelas seleps lulus S1 mau profesi dulu wkwkw. Pilihan-pilihan itu ada di depan mata para calon sarjana yang mau lulus ini. Tak jarang juga ada yang bingung, tapi banyak juga yang sudah merencakan dengan matang rencana hidupnya.
Berbicara tentang keputusan di umur yang sudah berkepala dua ini memang sebuah pembicaraan yang sedikit mendalam. Karena keputusan yang akan diambil sadar ga sadar adalah keputusan-keputusan yang permanen. Maka dalam melihat sesuatu pun ga bisa secara superficial, harus mendalam. Tujuannya agar tidak menyesal dengan pilihan yang telah diambil.

Kalo dipikir-pikir, aku dulu ketika melihat sesuatu juga masih sangat superficial. Seperti misalnya, "Wah dia keren ya, udah ganteng pinter pula, wah ternyata dia ketua departemen di bem x misalnya", atau lagi ketika melihat temanku yang sering menang lomba, "wah pantes dia sering menang lomba, orang dia udah expert. Wah pantes dia bisa bolak balik ke LN orang dia penerima beasiswa di X misalnya panteslah", terus kadang ngaca ke diri sendiri terus jadi tiba-tiba HDR (harga diri rendah) wkwk. 

Nah tapi nih tapi, seiring berjalannya waktu aku mikirnya ga demikian lagi tidak sesuperficial itu.
Misalnya nih selepas lulus ada yang mau nikah, nah nikahnya mau ama siapa ? Gimana cara dalam menentukan kriteria ? Apakah pertimbangnnya hanya berdasarkan paras cantik dan ganteng ? atau berapa gajinya ? atau dia sukanya apa ya? atau hal-hal remeh temeh lainnya yang ga substansial ? 
Kenapa ga lebih baik cari tau gimana karakternya, gimana perilakunya, gimana isi otaknya, apa tujuan hidupnya, dan yang terpenting gimana agamanya ? Bukankah hal-hal itu lebih substansial ? Nikah itu untuk dunia akhirat dan bukan cuma buat diri sendiri aja tetapi untuk anak-anak kita. Apa kabar anak-anak kita jika memiliki ayah/ibu seperti dia ? Apa kabar akhirat kita jika memiliki suami/istri seperti dia ?

Kalau yang mau bekerja juga, mau kerja dimana  dan pekerjaan yang seperti apa ? Apakah yang dari pagi sampai larut mala hingga tak ada waktu untuk keluarga maupun teman ? Maukah menjadi orang yang gila kerja seperti itu ?
Kenapa ga mikirnya kalo kira-kira aku kerja sebagai X bakal bermanfaat ga ya, masih ada waktu untuk keluarga dan orang lain ga ya, bakal berkaj ga ya kerja disana ?

terus kalo yang mau lanjut studi kayanya juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Kenapa mau lanjut studi ? Buat apa ? Kenapa di LN ? dkk. Jika jawabannya masih remeh kaya cuma mau nambah gelar dan naikin gaji misalnya, atau cuma mau traveling doang, atau mau buat gaya-gayaan doang, kayanya lebih baik urungkan niatnya dulu buat lanjut studi. Karena katanya, setelah aku baca beberapa buku dan blog terkai studi di LN itu ga seindah di feed instagram guys ! Ada yang terlunta-lunta dengan akademiknya. ada yang terlunta-lunta dengan keadaan ekonominya, ada yang cultur shock jauh dari keluarga, dsb. Yang pada intinya, butuh niat yang lurus untuk berkuliah di LN. agar ketika kita berada di titik terendah, niatlah yang menjadi tangan untuk kita bangkit.

Memang ya, semakin bertambah umur, pola pikirnya harus semakin dalam. Malu ga sih kalau memikirkan sesuatu masih ngeliat dari covernya aja ? Padahal cover mah kadang ga sesuai ama isinya ya. kalo aku pribadi ga boleh lagi ngeliat sesuatu secara superficial karena keputusan-keputusan di masa ini adalah keputusan yang permanen yang akan menggema seumur hidup.

Tulisan ini juga sebagai pengingat diri agar tidak terlupa dan agar bisa menentukan keputusannya dengan bijak.
Kalau kata mba dewina, selalu libatkan Allah dalam setiap urusan.
Semangat teman-teman yang juga berada di masa membuat keputusan (?) :D

Depok, 23 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H