Langsung ke konten utama

Ikatan-Ikatan Palsu

Pernah ga merasa kalau kita memiliki ikatan-ikatan ? Seperti ikatan orangtua dengan anak, ikatan kita dengan teman,ikatan kita dengan harta benda, ikatan kita dengan sekolah, dan bahkan yang agung lagi, iktana kita dengan Sang Pencipta: Allah swt. 

Pernah ga merasa kehilangan jika salah satu dari ikatan itu meninggalkan kita ? Seperti misalnya kita habis kehilangan uang, kita kehilangan orang yang kita sayang, kita kehilangan teman-teman kita. Dan dari kehilangan itu kita menjadi merasa bersedih dan menjadi merasa tidak berdaya *lebay wkwk. Saya sendiri pun pernah merasakan hal serupa, yaitu kehilangan seseorang (teman dekat saya). Seorang teman yang selalu siap sedia ada buat saya dan membantu saya. Pada suatu waktu, teman saya mengikuti sebuah project di fakultasnya yang membuat dia sangat sibuk dan dari situpun kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Awal-awal saya merasa ada yang  berlubang dari hati saya, seperti ada yang hilang, pokoknya aneh lah rasanya. Makan ga enak, tidur ga nyenyak wkwk galau bat dah. 

Lalu beberapa hari ini saya membaca bukunya Yasmin Mogahed yang berjudul Reclaim Your Heart. Membaca buku itu rasanya saya merasa tertampar dan membuat saya sadar.

Di buku tersebut dijelaskan bahwa dalam hidup, kita memang memiliki ikatan-ikatan imajiner dengan hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Tetapi kenapa jika salah satu dari ikatan tersebut diambil lagi, justru kita merasa tidak berdaya. Berarti kita sudah terlalu bergantung dengan ikatan-ikatan itu, padahal sejatinya di dunia ini tidak ada yang abadi termasuk ikatan-ikatan itu. Dan oleh karena itu juga kita tidak boleh terlalu bergantung dengan ikatan itu.

Jadi sewaktu-waktu ikatan itu diambil olehNya adalah agar kita tidak lagi ketergantungan dengan ikatan-ikatan palsu itu dan hanya bergantung pada ikatan yang sejati yaitu ikatan kita dengan Allah swt. Kenapa dulu Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail ? Salah satu tujuannya yaitu untuk melepaskan ikatan-ikatan palsu itu. Begitu ia terbebas dari ikatan palsu itu, objek cintanya dikembalikan lagi padaNya. Sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa setelah kehilangan kita pasti akan mendapatkan hal yang lebih baik lagi. Ternyata hal yang lebih baik lagi yang dimaksud adalah kedekatan kita padaNya, objek cinta kita hanya padaNya, keterikatan kita hanya padaNya. Perjuangan untuk membebaskan diri kita dari semua keterikatan palsu adalah perjuangan terbesar dalam kehidupan dunia ini. Perjuangan itulah inti dari tauhid (monoteisme sejati).
Menurut buku Reclaim Your Heart juga, jika dicermati secara mendalam, kelima rukun Islam pada dasarnya adlaah tentang pemisahan dari ikatan-ikatan palsu itu:
1. Syahadat
-> Pernyataan keimanan merupakan pengakuan verbal dari pemisahan yang ingin kita capai bahwa satu-satunya objek penyembahan, pengabdian, cinta, rasa takut, dan pengharapan adlaah Allah. 
2. Shalat
-> Lima hari sekali, kita melepaskan diri dari urusan duniawai apapun yang sedang kita lakukan dan berpaling kepada Allah. Intinya sholat ini mengingatkan kita untuk tetap fokus kepada objek keterikatan sejati di tengah kesibukan dunia kita.
3. Shaum
-> Ibadah puasa sepenuhnya tentang pemisahan darri: makanan, minuman, hubungan seksual, dan ucpaan yang buruk. Melalui ibadah ini kita dipaksa untuk melepaskan dari kebutuhan fisik, keinginan, dan kesenangan kita
4. Zakat
-> Zakat berarti memisahkan diri dari uang dengan menyerahkannya demi mendapatkan Ridha Allah. Selain itu, zakat juga membuat kita untuk melepaskan ikatan dari kekayaan.
5. Haji
-> Ibadah haji merupakan pemisahan diri yang paling komprehensif. Seseorang yang berhaji iakan meninggalkan segalanya dalam hidupnya. Mulai dari keluarga yang ada di rumah, gaji nya, ranjangnya yang hangat, sepatunya yang nyaman, dan pakaiannya yang bermerek. Semuanya ditukar dengan tidur beralas tanah di tenda dan hanya mengenakan sehelai kain sederhana. Tak ada juga simbol status ketika ibadah haji, semua orang berpenampilan dan melakukan hal yang sama.

Dari buku ini saya sadar bahwa ternyata secara tidak sadar kita memiliki ikatan-ikatan yang palsu. Mungkin kita punya ikatan yang sejati namun terkadang ikatan palsu itu terlalu mendominasi sehingga ikatan yang sejati terkadang di nomor duakan. 
Ternyata, Allah dalam kebijaksanaan dan rahmatNya yang tak terbatas, tidak hanya meminta kita untuk melepaskan ikatan dari dunya, bahwa ternyata Allah gamau kalau kita sesat dan ikut tenggelam dalam ikatan-ikatan palsu. Sehingga Dia pun memberi tahu bagaimana caranya untuk melepaskan ikatan-ikatan itu melalui lima pilar Islam (rukun Islam) Masya Allah.

Semoga tulisan ini bisa senantiasa mengingatkan kita dan juga terutama saya yang masih suka khilaf. Semoga kita bisa memisahkan diri dari ikatan-ikatan palsu itu dan hanya mengikatkan diri kepada ikatan yang sejati, Allah swt.

Daftar Pustaka
Mogahed, Y.(2018). Reclaim Your Heart. Jakarta: Noura

Depok, 19 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...