| Saat menjadi penabuh gamelan saat wayangan di SMA tahun 2014 |
Sejak SD saya sudah mendapatkan pelajaran Bahasa Jawa.
Namun saya baru benar-benar meresapi pelajaran tersebut ketika SMA. Saat itu
masih teringat sekali saat baru masuk SMA kelas X. Saat pelajaran bahasa jawa,
seorang guru Bahasa Jawa saya mengatakan, “Cah, yen dadi wong jawa ki kudu bisa
ngomong basa jawa, bisa/apal aksara jawa, ngerti macapat, ngerti wayang, lan
ngerti/bisa gamelan”. Diantara kemampuan-kemampuan tersebut, yang saya masih belum
bisa adalah gamelan. Kebetulan di SMA saya ada ekstrakurikuler gamelan setiap
hari minggu. Lalu saya dan teman saya mengikuti ekstrakurikuler tersebut.
*lumayan kan ya les gamelan gratis :D. Pada awalnya, peminat ekstrakurikuler
ini sangat banyak, namun seiring berjalannya waktu terjadi seleksi alam. Hingga
ketika akan naik kelas XI, seorang guru bahasa jawa yang juga mengampu
ekstrakurikuler ini mengumumkan anak-anak yang masuk ke tim inti gamelan untuk
mengiringi wayangan di SMA tahun depan. Alhamdulilah, karena saya rajin
berangkat ekstra tiap minggu, saya masuk ke tim inti. Saya kebagian menabuh
“saron”. Oh ya, dalam gamelan ini ada banyak
jenisnya. Namun, dulu ketika pertama kali untuk mengiringi wayangan
Sunan Kalijaga, hanya ada 5 jenis gamelan yang digunakan. Dan saya juga baru
tahu kalau ternyata jenis gamelan itu mempunyai maknanya tersendiri berdasarkan
bunyi suaranya.
Gamelan-gamelannya antara lain :
1. Saron: bunyinya itu “ning”
yang berarti yang ada di sini,
2. Kenong: bunyinya itu “nong” yang berarti yang
ada di sana,
3. Kendhang: bunyinya itu “ndang” yang berarti cepatlah,
4.
Kempul: bunyinya “pul”, yang berarti cepatlah berkumpul,
5. Gong ageng:
bunyinya seperti orang yang nyegur ke kolam renang, yang artinya “untuk nyengur
masuk islam”.
Iya, dulu wayang adalah sebagai sarana dakwah yang digunakan oleh
Sunan Kalijaga. Kalo diamat-amati, di setiap pertunjukkan wayang, walaupun
memakai bahasa jawa tingkat tinggi, namun bagi orang paham, wayang itu mengajak
kepada kebaikan.
Menjadi penabuh gamelan untuk mengiringi wayangan
sehari full adalah pengalaman luar biasa yang saya dapatkan ketika SMA. Selain
mendapatkan banyak ilmu tentang gamelan, saya juga senang karena ikut serta
melestarikan budaya jawa.
Salam,
Destin Kurniawati
Mantan Penabuh Saron :)
Rumah, 7 Januari 2019
Komentar
Posting Komentar