Langsung ke konten utama

Belajar Dari Alam

doc.pribadi : Bukit Sikunir, Dieng
doc.pribadi langit malam penuh bintang, Bukit Sikunir, Dieng


Akhir-akhir ini aku sering melihat bintang fajar, si planet venus, atau sebutan orang jaman dulu itu bintang kejora karena paling terang. Seumur umur hidup sampai saat ini, baru kali ini tau yang namanya bintang fajar ya yang itu yang paling terang, sedikit lebih besar dari bintang lainnya, dan tidak berkedip. Di waktu malam saat langit cerah, aku juga suka melihat bintang di langit yang jumlahnya sangat banyak sekali. Aku pernah mencoba menghitungnya, namun selalu gagal karena jumlahnya yang sangat banyak. Tapi aku senang memandangi langit karena kerlap kerlipnya bintang bintang. Apalagi jika ditambah cahaya bulan. Langit berasa seperti sedang menunjukkan keindahannya kepada bumi, lebih tepatnya menghibur penduduk bumi.
Di kala fajar, aku juga suka melihat matahari muncul malu-malu dari peristirahatannya (padahal matahari ga pernah beristirahat wkwk). Semburat warna jingganya membuat lukisan langit menjadi sangat indah bagi penduduk bumi. Pertanda, hari mulai terang. Aku pernah mendengar kajian, bagi penduduk bumi yang terjaga selepas subuh sampai terbitnya matahari akan diperlancar rezeki lahirnya. Ya ternyata memang benar. Di pagi hari, kalau kamu pergi ke pasar pagi, sudah ramai pedagang dan pembeli. Pedagang yang datangnya lebih awal kemungkinan akan lebih banyak mendapat pelanggan. Aku juga melihat sendiri saat harus berangkat pagi-pagi buta selepas subuh, di stasiun kereta sudah banyak penjual makanan yang sibuk dengan jualannya, abang-abang ojek yang sibuk mengantar penumpang, maupun orang-orang penumpang kereta yang mau menjemput rezeki di tempat kerjanya. Orang orang begitu antusias menikmati pagi dan menjemput rezeki. Rezeki lainnya menurut saya adalah ketika bisa menyaksikan bintang fajar, matahari terbit, mendengar alunan burung berkicau, atau menikmati udara pagi. Itu rezeki karena kita masih dapat merasakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Kalau dipikir-pikir, siapa yang bisa membuat ini semua selain Sang Pencipta ? Tidak ada.  Ternyata sepenting itu waktu pagi hari yang dimana jika kita memilih tidur akan kehilangan banyak momen untuk merenungi dan menjemput rezeki. Tak hanya pagi hari, ketika ada hujan pun, saat matahari tenggelam lalu terbit lagi setiap hari di waktu yang hampir bersamaan sudah membuat saya berpikir, manusia tidak akan mampu mengatur alam secanggih ini.
Ternyata dengan mengamati alam sekitar, merenungi keindahannya, kemudian berpikir tentang siapa yang menciptakan, itu dapat menjadi salah satu cara untuk mempertebal keimanan. Belajar langsung dari alam tentang aqidah. Bahwa tidak ada yang mampu menciptakan langit dan bumi beserta isinya dan beserta aturnanya kecuali Allah Yang Maha Esa.

Rumah, 10 April 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...