Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 2 : Tumbuh Dari Luka


Apa yang kamu pikirkan tentang masa lalu ? Memalukan ? Menyakitkan ? Membahagiakan ? atau mengecewakan ?
Pernah di satu masa aku berpikir bahwa apa apa yang tidak mengenakan di masa lalu ingin aku buang jauh-jauh. Rasanya ingin membuang luka itu. Luka yang hanya membuatku sakit berkepanjangan. Pernah suatu waktu, aku jatuh berkali kali dan tidak tahu caranya bangkit. Aku pernah merasa tidak bisa ikhlas atas apa-apa yang menimpaku saat itu. Hingga waktu terus berjalan meninggalkan masa itu, aku baru sadar.
Ternyata apa – apa yang terjadi di masa lalu membuatku menjadi hari ini. Membuatku menjadi lebih kuat dari yang dulu, lebih tegas, lebih bijaksana, dan menjadi lebih memahami tentang ‘ilmu hidup’. Jika ada yang mengatakan waktu akan menyembuhkan luka, bagiku itu tidak sepenuhnya  benar. Untuk menyembuhkan sebuah luka apapun itu, selain membutuhkan waktu yang tidak sebentar juga dibutuhkan hati yang lapang, pikiran yang jernih. Ya meskipun harus nangis berkali-kali dan pikiran masih denial terhadap apa yang menimpaku. Pernah juga benci sebenci-bencinya terhadap orang yang membuat luka itu. Pernah ingin menskip saat ini dan langsung saja melompat ke masa depan. Betapa dangkalnya pemikiranku saat itu. Betapa sempitnya hatiku saat itu.
Justru dengan menjalani proses itu, dengan perlahan merawat lukanya setiap hari dengan sabar lama-lama luka itu sembuh. Kalau luka itu dibiarkan ternganga begitu saja dan tidak segera dirawat, luka tersebut akan mengalami infeksi, lalu bernanah, semakin nyeri, dan ya fase penyembuhannya akan semakin lama. Sehingga jika kita terluka segera rawat lukanya : dengan memaafkan, latih hati untuk segera ikhlas, dan segera moveon untuk memperbaiki kesalahan. Memang itu proses yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar juga menguras energi yang tidak sedikit (bagiku).
Setiap orang di hari ini telah tumbuh dari masa lalu yang berbeda beda. Sifat dan karakter yang ada pada seseorang di hari ini bisa terbentuk dari masa lalu itu. Pengalaman emosi itu memang harus dirasakan secara langsung. Rasanya dibuat bahagia, dikecewakan, dikhawatirkan, dsb akan sangat berarti untuk kita saat ini. Pengalaman itu juga bisa menjadi bekal kita sebagai orang tua kelak, ketika anak-anak bertanya tentang pengalaman emosi kita sudah mengetahui jawabannya karena kita pernah mengalami dan belajar dari sana.
Masa lalu itu tidak untuk dikenang, apalagi dirindukan. Tetapi untuk diambil pelajarannya.
Iya, ternyata seseorang bisa bertumbuh dari luka yang menimpanya. Selamat merawat luka !

Rumah, 25 April 2020
2 Ramadhan 1441 H



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...