Langsung ke konten utama

Bumi dan Bintang



Di kerajaan semesta hiduplah bermacam planet planet dan bebintang. Semuanya berjalan harmonis di lintasan masing-masing. Planet berotasi mengelilingi matahari, bintang juga demikian. Dalam perjalanannya, terkadang mereka berpapasan, saling menangamati satu sama lain. Mereka tak pernah saling mengenal apalagi berbicara karena mereka memiliki bahasanya sendiri. Suatu hari, sebuah bintang heran kepada sebuah planet yang cepat sekali berubah-ubah warna. Kadang terlihat biru, lalu pada suatu juga abu-abu.. Kalau bintang tidak salah lihat, di planet itu banyak sekali makhluk yang katanya disebut manusia berlalu lalang sibuk dengan urusan masing-masing. Konon katanya, manusia juga kaya bintang yang punya cahaya dan lintasannya sendiri.
Setiap orang punya waktu kapan dia bersinar, berapa lama dia bersinar, kapan sinarnya hilang dan kapan muncul lagi suatu saat. Kaya bintang yang berpindah tempat dari langit yang banyak polusinya ke langit yang tidak ada polusi. Padahal bintang itu selalu bersinar. Selalu ada di sana.
Polusi diibaratkan sebagai tantangan, ujian yang harus dilewati oleh bintang untuk lebih memancarkan cahaya agar tetap terlihat oleh bumi. Tetapi hal tersebut membuat bumi khawatir karena terkadang bintang tidak kelihatan seperti biasanya. Apakah bintang sudah tidak lagi menerangi bumi ataukah bintang tertutup langit mendung, atau bahkan tertutup oleh polusi yang dibuat oleh bumi sendiri. Sebenarnya bumi mengerti, ada atau tanpa polusi, terang atau mendungnya langit, bintang tetap ada di sana. Yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Ya, kekhawatiran bumi memang berlebihan.
Bumi hanya perlu meyakini bahwa bintang tak pernah hilang. Karena bintang dan bumi akan selalu sama-saa mengitari matahari yang sama. Dalam artian jalan yang sama. Meski berada di lintasan yang berbeda. Ya itu takdirnya, tidak bisa ditolak lagi.
Takdir. Sudah diatur jalan ceritanya. Penduduk kerajaan semesta tidak dapat melawan takdir yang sudah ditetapkan. Bukan kuasanya. Tapi menjadi kuasa Sang Pencipta yang telah menciptakannya. Penduduk kerajaan semesta tunduk dan menjalankan saja apa yang sudah ditakdirkan untuk mereka dengan hati yang lapang. Bahwa takdir bintang dan bumi memang demikian. Jauh tetapi selalu beriringan. Di tengah kekhawatirannya bumi yang semakin menjadi karena bintang selalu hilang muncul layaknya hujan. Bumi berusaha menguatkan dirinya sendiri. Bumi berusaha untuk tetap menjadikan Sang Pencipta menjadi yang utama. Di tengah gelapnya malam yang tanpa bintang. Bumi diam-diam menengadahkan tangannya pada langit. Untuk pertama kalinya bumi berdoa untuk bintang agar bintang meneranginya lagi. Namun bumi tidak sadar bahwa ternyata polusinya sendiri yang menutupi bintang untuk bersinar.
“Yang sabar ya bumi. Bintang memang begitu. Tetapi dia selalu ada kok. Dia selalu selangkah denganmu mengelilingi matahari dengan lintasan yang berbeda. Dia juga menghiasi malammu yang gelap. Menghiburmu dengan kerlipnya dan jumlahnya yang sangat banyak. Meski saat hari berganti menjadi siang  bintang tidak terlihat. Tetapi bintang tidak lupa untuk menitipkan sinarnya kepada matahari agar selalu tetap bisa menerangimu. Agar kamu tidak kesepian atau bahkan kehilangan bintang.” Bumi menasihati dirinya sendiri.
Bumi terlalu mengkhawatirkan bintang karena bumi selalu menganggap bahwa bintang itu hanya diam di tempat atau bahkan terkadang hilang.
Namun, bagi bintang. Bintang sedang berjuang dengan cara cara yang tidak bumi pahami. Bintang rela menjatuhkan dirinya untuk menjaga bumi, walaupun belum tentu dia jatuh di bumi yang bintang maksud. Namun jika sudah takdirnya, ia akan jatuh di bumi yang dijaganya selama ini.
Bumi tetap tidak mengerti. Bumi menganggap bahwa di sekeliling bintang masih banyak planet lain yang jauh lebih menarik dari bumi. Ada saturnus yang memiliki orbit cincin menawan. Atau planet lain yang tak kalah menariknya. Atau bahkan galaksi lain yang tak kalah menawannya. Apalah bumi. Planet kecil yang sesak oleh manusia manusia serakah. Dan juga manusia-manusia baik.
Planet-planet di sekeliling bintang menjadi ujian tersendiri bagi bintang. Apakah akan mengikuti hawa nafsu atau mengikuti jalur yang benar. Tak jarang ia terlena dengan keindahan planet lain, namun ia sudah meyakinkan dirinya untuk terus pada jalur yang benar. Ia pasti akan jatuh ke bumi yang terus ada di pikirannya selama ini.
Bagi bintang, bumi punya sifat yang baik. Yang jika dijaga akan memberikan banyak manfaat bagi manusia-manusia yang ada di bumi. Tinggal bagaimana bintang dan bumi bersatu menjadi tim hebat yang punya tujuan memberi manfaat sebanyak-banyaknya. Karena itu, bumi perlu dijaga oleh bintang.
Sekarang bumi mulai paham, kenapa bintang selalu menerangi langit-langit malamnya dan memberikan senyumnya kepada bumi. Akhir-akhir ini dengan adanya bencana wabah yang menimpa bumi, manusia-manusia bumi mulai sadar kembali tentang hakikat kehidupan ini. Manusia-manusia di bumi kembali banyak yang teringat kepada Tuhannya. Sehingga banyak sekali lantunan ayat-ayat Al Quran yang selama ini jarang didengar oleh bumi. Tetapi catat ini hanya asumsi bumi. Seperti biasa, bumi tidak pernah mengkonfirmasi kepada bintang.
Bumi berpikir bahwa mungkin bagi penduduk langit termasuk bintang, bumi juga bisa menjadi pemandangan yang penuh dengan bintang-bintang. Bukan karena banyaknya lampu -lampu di jalanan. Tetapi karena banyak rumah-rumah yang di dalamnya selalu terlantun ayat-ayat Al Quran. Rumah yang didalamnya ada yang membaca Al Quran tampak bersinar bagi penduduk langit. Seperti cahaya bebintang bagi penduduk bumi. Impas ! Kini bumi bisa mengimbangi terangnya bintang.
Sekarang, bumi dan bintang punya cahayanya sendiri sendiri dan bersiap untuk menjadi cahaya untuk semesta ini. “Ternyata untuk bisa bercahaya memang harus diupayakan dan berasal dari dalam diri sendiri.” Pikir bumi.
SELESAI
Dibuat dengan penuh kekurangan dan beberapa revisi 

Rumah, 5 April 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...