Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 1 : Mengapresiasi Diri Sendiri

sumber : pinterest.com


Setiap Ramadhan memberikan kesan yang berbeda untukku. Tetapi ada kesan yang sama, yaitu berjuang. Entah itu berjuang masuk perguruan tinggi atau berjuang untuk bisa segera menjadi alumni. Keduanya merupakan lika-liku yang sangat meresahkan tetapi ternyata kamu masih mau menjalaninya sampai hari ini !
Cerita bermula dari tahun 2015. Sebuah tahun perjuangan yang memberikan banyak sekali pelajaran. Ramadhan 2015 jatuh pada bulan Juni. Saat itu aku masih berjuang kesana kemari untuk melakukan tes masuk perguruan tinggi. Ingat sekali saat aku harus bolak balik ke Solo entah berapa kali. Aku juga masih ingat betapa kecewanya aku saat membuka pengumuman SBMPTN tetapi yang muncul adalah kata “Maaf...”. Tapi aku bahagia dengan kejutan hasil SIMAK UI yang saat itu aku buka pengumumannya tepat sebelum berbuka puasa. Aku membuka pengumuman dengan bergumam dalam hati “Ah paling tidak diterima. SBM aja gagal”. Tetapi setelah aku membuka sebuah laman yang bertuliskan “veritas, probitas, iustitia” yang selalu membuatku kagum, aku berhasil dibuat menangis olehnya. Kali ini bukan menangis kecewa, tetapi menangis bahagia. Sebuah tulisan “Selamat and diterima....”
Sebuah tulisan yang mungkin bagiku saat itu masih seperti mimpi. Ya, my dream come true !”. Sebuah perjuangan memang tidak ada yang sia-sia. Seolah sudah gagal, tetapi ternyata Allah mempersiapkan skenario yang jauh lebih indah. Saat kita berdoa untuk diberikan A ternyata Allah berikan A+B. Kuncinya adalah berusaha semaksimal mungkin tanpa berpikir akan gagal/berhasil, berdoa, dan pasrahkan. Hi destin 2015, you’re strong !
Cerita berakhir di tahun 2019. Sebuah perjuangan untuk mengakhiri sebuah kehidupan sebagai mahasiswa sarjana. Perjuangan yang bagiku nano nano sekali karena lebih banyak up and down nya. Saat  ramadhan 2015 mungkin sainganku adalah teman-teman lain yang akan masuk perguruan tinggi. Tetapi untuk ramdhan kali ini sainganku adalah diriku sendiri. Iya, aku menargetkan untuk dapat sidang akhir Mei di akhir ramadhan ! Selama ramdhan ini aku benar-benar hanya mengerjakan skripsi. Aku tidak memikirkan hal lain di luar itu. Siang malam aku kerjakan sampai-sampai aku tidak sadar tubuhku sudah memberikan alarm untukku. Iya, aku mual setiap kali aku berbuka dan sahur. Ternyata asam lambungku naik. Okesip. Tetapi aku tetap mencoba untuk tidak terlalu merasakan karena aku harus mengejar targetku. Setelah proses yang berliku-liku aku berhasil sidang dan unofficially S.Kep !
Setelah itu, asam lambungku makin naik, hipoglikemia, dan ya Hbku turun drastis menjadi 8 !
Aku belajar bahwa saat sudah diniatkan dari awal ternyata Allah akan memberikan jalan. Meski jalan itu terlihat sulit dan berliku tetapi selalu ada kemudahan di sepanjang perjalanan. Doa restu orangtua adalah faktor penting. Mungkin doa orangtuaku juga yang dapat meluluhkan hati pembimbing untuk menyetujui aku sidang akhir Mei. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan ?
“Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves” (Q.S Ar-Ra’d : 11)
Dan di ramadhan tahun ini apa kabar ? Hampir sama dengan tahun sebelumnya, yaitu berjuang menulis tugas akhir ners. Yes, doakan teman-teman ! Seperti biasa, rasa ngeri-ngeri sedap itu masih ada. Bahkan untuk menentukan judul pun belum nemu yang cocok, belum ada inspirasi datang. Sedangkan teman-teman lain sudah banyak yang setor huft !
Kebiasaan, aku selalu membandingkan diriku dengan yang lain !
Aku hanya ingin mengatakan bahwa setiap kamu itu keren. Setiap kamu ternyata mampu dan masih mau untuk berjuang menjalani lika-liku yang meresahkan sampai hari ini. Setiap kamu itu memiliki waktunya sendiri-sendiri. Sehingga tidak perlulah membanding-bandingkan dirimu dengan yang lain. Yang seharusnya menjadi sainganmu itu adalah dirimu sendiri. Dirimu yang kemarin dengan dirimu hari ini. Apakah ada bedanya ? Apakah ada ilmu baru yang kamu dapat ? Apakah ada kebaikan lain yang kamu kerjakan ? Apakah ibadahmu lebih khusyu’ dari kemarin ? Dan lain-lain. Sebuah colekan untuk diri sendiri juga yang kerap kali selalu membandingkan dengan orang lain hingga nampak rumput tetangga lebih hijau. Hal itu ternyata membuat kita insecure, membuat kita tidak menghargai diri sendiri, membuat kita menjadi tidak berharga dan ya berbagai anggapan negatif lainnya terhadap diri sendiri. I think, setiap orang itu keren dan punya potensi. Hanya setiap orang apakah mau menyadari dan memaksimalkan potensinya itu ? Karena ternyata untuk menghargai diri sendiri membutuhkan pikiran yang mindful, hati yang lapang, dan rasa syukur.
Mulai hari ini, sepertinya harus lebih fokus pada diri sendiri. Fokus dalam artian lebih dapat menghargai diri sendiri dan segala pencapaian yang sudah dilakukan sampai hari ini meski hanya perubahan bangun pagi dari yang biasanya pukul 04.00 menjadi 03.30. Mulai hari ini, sepertinya harus lebih banyak memberikan asupan untuk diri sendiri terutama leher ke atas. Membaca lebih banyak buku dan mengamalkan. Juga belajar membaca keadaan dan peka terhadapnya.
Jadi, sudah bersyukurkah  kamu hari ini ?


Rumah, 24 April 2020
1 Ramdhan 1441 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H