![]() |
| sumber : unsplash.com |
Hidup
adalah tentang pergantian peran. Sekarang kita menjadi anak, esok kita menjadi
orangtua, dan esoknya lagi kita menjadi nenek/kakek, dan kemudian meninggal.
Kata bapak, tugas orangtua itu salah satunya membuat anaknya bisa berdiri di
atas kakinya sendiri. Agar nanti jika mereka sudah tiada, anaknya mampu
melanjutkan hidupnya sendiri. Oh ya, tak lupa diberikan bakal ilmu, karena
bekal itu akan berguna selamanya. Hidup ini singkat ya. Hanya berganti-ganti
peran saja dan setiap perubahan peran memiliki tantangan sendiri.
Aku
pernah belajar tentang perkembangan manusia berdasarkan kondisi psikososialnya.
Erikson mengatakan bahwa setiap tahapan ada tugas perkembangan yang harus
dilalui. Tugas perkembangan ini sama setiap orang, namun bagaimana melaluinya
tentu berbeda. Ada yang berhasil melaluinya dengan baik, ada yang parsial, ada
juga yang tidak dapat melaluinya dengan baik (unsuccessful). Berhasil
atau tidaknya seseorang melewati setiap tugas perkembangan di setiap tahapan
akan mempengaruhi kemampuan orang tersebut untuk berprogres di tugas
perkembangan berikutnya. Erikson mempercayai bahwa semakin sukses seseorang
berhasil melewati tahapan perkembangannya dengan baik, semakin sehat (jiwa)
pula kepribadian orang tersebut (Berman, Snyder, & Frandsen, 2016) .
Berdasarkan
teori perkembangan menurut Eriskon. Perkembangan konsep diri manusia terdiri
dari 7 tahapan sesuai dengan usia perkembangan manusia. Semua tahapan
perkembangan manusia tersebut mencerminkan aspek positif dan negatif. Normalnya,
orang yang berhasil melewati setiap tahapan perkembangan dengan baik, akan
terbentuk aspek positifnya. Namun jika tidak, yang akan berbentuk aspek
negatifnya (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) .
Berikut
tahapan perkembangan manusia dari lahir hingga lansia :
- Bayi (0-1 tahun) : percaya vs tidak percaya
Pada
tahap ini bayi memiliki pengasuhan oleh keluarga yang memiliki tanggung ajwab
untuk membentuk konsep diri percaya dan ketidakpercayaannya. Tujuan dari
dimulainya pengajaran konsep diri pada tahap ini adalah agar bayi mampu untuk
membedakan hal-hal yang ada di sekitarnya. Cara yang dapat dilakukan untuk membangun
rasa percaya pada bayi adalah dengan selalu memenuhi kebutuhan bayi dan
memberikan kasih sayang. Misalnya ketika bayi menangis, orangtuanya langsung
tanggap ini bayi menangis kenapa apakah karena lapar, pipis, atau sakit. Dengan
bayi merasa nyaman secara fisik dan merasa aman, hal ini dapat membangun rasa
percaya bayi kepada orangtua. Namun apabila sebaliknya maka yang timbul adalah
rasa ketidakpercayaan. Misal ketika bayi nangis, orangtua meresponnya lama
dibiarin dulu bayinya. Orangtua menunda memenuhi
kebutuhan bayi. Nah hal-hal kecil ini bisa membuat stres pada bayi, dan
kemudian membentuk rasa tidak percaya bayi pada orangtua karena bayi merasa
orangtuanya tidak merespon bayi. Rasa percaya ini penting dibentuk pada bayi.
Jika bayi dapat melewati tahap perkembangan ini dengan baik, akan terjadi
hubungan yang erat antara ibu/ayah-anak dan bayi akan menganggap orangtua sebagai
orang yang paling penting dalam hidup mereka karena orangtua selalu memperhatikan
apa yang bayi butuhkan. Nantinya bayi akan mempercayai dirinya sendiri,
oranglain, dan dunia. Bayi menjadi lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan
di fase selanjutnya (Hockenberry & Wilson, 2015) .
2. Toddler (1-3
tahun) : otonomi vs rasa malu
Pada
tahap ini, anak sudah dapat melakukan beberapa kegiatan perawatan diri dasar
seperti berjalan, makan, dan toileting. Mereka dapat mandiri hasil dari peniruan
dan latihan. Sedangkan konsep diri berkembang pada anak adalah otonomi vs rasa
malu. Otonomi dalam hal ini merupakan kemampuan menunjukkan keinginannya
sendiri dan menolak sesuatu yang tidak dikehendakinya. Balita mengembangkan otonominya
dengan membaut pilihan. Pilihan khas untuk balita meliputi kegiatan yang
berhubungan dengan relationship, keinginan, dan mainan (Berman,
Snyder, & Frandsen, 2016) . Misalnya menolak
untuk makan makanan tertentu karena tidak suka rasanya. Membatasi pilihan dan/atau
memberlakukan hukuman keras dapat membuat anak menjadi merasa malu dan ragu-ragu.
Sehingga peran orangtua pada tahap ini adalah memberikan batasan yang sesuai
agar anak dapat mengembangkan dirinya namun agar tetap tidak membangkang. Balita
yang berhasil menguasai tahap ini, memiliki kontrol diri yang bagus (Hockenberry & Wilson, 2015) .
c. 3. Pre-school
(3-6
tahun) : inisiatif vs rasa bersalah
Pada
tahap ini anak-anak telah memiliki rasa penasaran yang tinggi dan mudah meniru
orang-orang di sekitarnya. Mereka mencoba banyak inisiatif dari rasa ingin tahu
yang mereka alami. Anak-anak sedang berada pada tahap pembelajaran yang
energik. Anak-anak mulai mempelajari cara berkomunikasi, bekerjasama, memimpin,
dipimpin, memperhatikan respon, mengontrol perasaan dan perilakunya terhadap
orang lain di sekitarnya. Mereka juga suka berpura-pura dan mencoba peran baru.
Fantasi dan imajinasi yang mereka miliki, memungkinkan mereka untuk menjelajahi
lingkungan mereka. Pada anak anak pra sekolah juga sedang berkembang siperergo
atau nurani mereka Konflik sering terjadi jika mereka ingin mengeksplorasi namun
dibatasi. Konflik ini dapat menimbulkan perasaan frustrasi dan rasa bersalah.
Rasa bersalah juga dapat terjadi jika respons orangtua terlalu keras (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) . Selain itu, ketika
anak sedang melakukan sesuatu tetapi ternyata anak tersebut tidak berhasil,
mereka juga dapat merasa bersalah. Perasaan bersalah, cemas, dan takut mungkin karena
kenyataan tidakk sesuai dengan yang diekspektasikan. Peran orangtua dalam hal
ini adalah dapat dengan memberikan hukuman dan hadiah untuk sesuatu yang
berhasil/gagal dilakukan anak. Misal orangtua akan memberikan roti jika dalam
sehari anak dapat makan teratur 3 kali. Untuk memberikan peringat kepada anak
usia pra sekolah juga lebih efektif menggunakan verbal. Misal orangtua meminta
anak untuk tidak lari ke jalan. Anak pra sekolah masih membutuhkan pengawasan
ketat tetapi jauh lebih sadar akan bahaya dan dapat mendengarkan nasihat dan
mematuhinya (Hockenberry & Wilson, 2015) .
d. 4. Sekolah
(6-11 tahun) : Industri vs inferirotas
Pada
tahap sekolah, anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga menuju ke
lingkungan sekolah. Dalam tahap ini tidak hanya orangtua yang membentuk konsep
dirinya tetapi orang di sekitarnya juga berperan seperti guru yang harus
memberi perhatian dan teman yang harus menerima kehadirannya. Anak-anak belajar
tentang keterampilan produktifnya. Mereka mulai senang membuat sesuatu. Seperti
membuat mainan dari kertas, menyusun puzzle, membuat mainan dari kayu, dsb.
Sehingga pada tahap ini mereka perlu sekali untuk diapresiasi seperti diberikan
pujian karena telah berhasil mempelajari 1 keterampilan baru. Namun, jika
mereka tidak berhasil melakukannya terkadang mereka mengembangkan suatu
perasaan inferioritas/rendah diri. Erikson percaya bahwa keberhasilan sikap anak-anak
pada tahap ini dapat menentukan bagaimana anak tersebut bersikap pada
pekerjaanya saat dewasa nanti (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) .
e. 5. Remaja
(12-20 tahun) : identitias vs kebingunan peran
Pada
tahap ini, anak mulai bukan hanya berada pada lingkungan keluarga dan sekolah
tetapi juga lingkungan masyarakat. Anak akan mengalami pergolakan fisik,
emosional, dan sosial. Di usia remaja ini remaja akan mengubah pola pandang
mental mereka tentang dirinya. Mereka mulai bertanya, “siapa saya ?” (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) . Sebelum remaja,
identitias anak seperti potongan puzzle yang tersebar di atas meja. Perkembangan
kognitif dan situasi sosial yang dihadapi selama masa remaja mendorong individu
untuk menggabungkan potongan-potongan puzzle untuk mencerminkan mereka di
masyarakat, cara orang lain memandang mereka, rasa harga diri mereka, dan
pilihan mereka untuk masa depan. Bagi kebanyakan orang, teka teki potongan-potongan
puzzle terbentuk sempurna selama remaja akhir dan dewasa awal (Hockenberry & Wilson, 2015) . Dalam menentukan
identitasnya, remaja melakukan eksplorasi terhadap dirinya dan lingkungannya.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa remaja rasa penasarannya tinggi dan jika
tidak dibatasi, ya takutnya kebablasan. Sehingga peran orangtua dalam tahap ini
adalah membantu dan membimbing remaja untuk menemukan jati dirinya. Remaja lebih
suka untuk diajak diskusi daripada didikte.
f. 6. Dewasa muda (20-40 tahun) : Keintiman vs
isolasi
Pada
tahap ini, seseorang mulai membangun hubungan yang bermakna dan intim dengan
orang lain. Mereka mulai untuk mencintai orang lain dan merawat mereka. Jika orang
dewasa muda tidak mampu membangun persahabatan dan keintiman, isolasi diri
terjadi karena dia takut penolakan dan kekecewaan (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) . Maka tidak heran ya
jika di masa-masa ini banyak orang yang mulai untuk mencari-cari orang lain.
haha
g. 7. Dewasa
tengah (40-60 tahun) : generativitas vs stagnansi
Pada
usia dewasa tengah, individu umumnya akan berfokus pada pemberian dukungan
terhadap generasi yang akan datang. Pada tahapan ini, hal terpenting yang
dilakukan individu adalah kemampuan dalam mengembangkan diri dan keterlibatannya
dalam masyarakat. pada masa ini individu berkontribusi besar terhadap generasi
mendatang dengn berperan sebagai orangtua, pengajar, dan terlibat dalam komunitasnya.
Jika individu tersebut tidak mampu mengembangkan kemampuannya dalam
pengembangan generasi berikutnya, akan mengakibatkan stagnasi (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) .
h. 8. Dewasa
akhir (60 tahun-wafat) : Kebijaksanaan vs keputusasaan
Pada
tahap ini seorang individu dewasa akhir akan cendrung melakukan instropeksi
diri. Mereka akan kembali mengingat kenangan masa lalunya baik keberhasilan
maupun kegagalan. Jika dalam masa sebelumnya orang tersebut memiliki integritas
yang tinggi dalam segala hal dan banyak mencapai keberhasilan, maka akan
menimbulkan kepuasan di masa senajnya. Namun sebaliknya, jika orang tersebut
banyak mengalami kegagalan maka akan timbul keputusasaan (Potter, Perry, Stockert, & Hall, 2013) .
Dari
semua tahapan perkembangan manusia secara psikososial, aku berkesimpulan bahwa
setiap tahap memiliki tugasnya masing-masing. Untuk melanjutkan ke tahap
berikutnya pun harus melewati tahapan sebelumnya dengan baik. Ya, mirip – mirip
sekolah.
Jika
diamati, semakin bertambah umur, maka tanggung jawab semakin bertambah
sedangkan kesempatan semakin berkurang. Sehingga untuk dapat menjalani semuanya
dengan baik agar kita tetap sehat jiwa adalah ya dengan menikmatinya.
Aku
tidak terlalu suka dengan perubahan karena harus beradaptasi lagi dan itu
melelahkan. Namun kali ini aku belajar untuk menyukainya karena tanpa perubahan
manusia hanya jalan di tempat. Dan perubahan yang paling aku khawatirkan adalah
perubahan peran. Aku sekarang sudah pada fase dewasa muda dan aku harus
menyelesaikan tugas pada fase ini. Namun konsekuensinya adalah seketika itu
peranku berubah total. Apakah aku mampu menjalani fase selanjutnya ?
Mungkin,
salah satu cara untuk meredam kekhawatiran itu dengan menyiapkan bekal terlebih
dahulu. Dengan membaca banyak buku dan terus belajar. Kekhawatiran itu muncul
dari pikiran sendiri. Aku jadi teringat saat akan ujian pasien di matkul yang
menurutku ngeri-ngeri sedap.
Saat
sedang bimbingan, dosenku tiba-tiba bertanya “kalian sudah siap ujian belum ?”.
Kami
sontak menjawab, “Belum bu”
Dosenku
kemudian berkata lagi, “Iya kalau kalian belum belajar ya kalian tidak akan
pernah siap dan kalian akan terus khawatir. Tetapi kalau kalian sudah belajar
kalian akan lebih tenang dalam menghadapi ujian. Terlepas dari hasilnya akan
baik atau tidak”.
Kami
“.....”
Perubahan
memang sesuatu yang pasti terjadi dalam hidup. Maka untuk menghadapinya
diperlukan bekal. Dengan adanya perubahan ,pertanda peran telah berubah dan pertanda
kehidupan kita semakin naik tingkat yang berarti kehidupan tidak semakin mudah.
Tetapi walaupun begitu, yang perlu kita ingat harus tetap menjalani dengan
sebaik baiknya setiap prosesnya. Nothing to lose.
Kamu sedang berada pada tahap perkembangan yang mana ?
Jadi,
apakah kamu sudah siap dengan berbagai perubahan yang akan terjadi dalam
hidupmu ?
Mari bersiap !
Daftar Referensi
Berman, A., Snyder, S., &
Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb's Fundamental of Nursing Concepts,
Process, and Practice Tenth edition. New Jersey: Pearson Education.
Hockenberry, M. J., & Wilson,
D. (2015). Wong's Nursing Care of Infants and Children. St.Louis
Missouri: Elsevier Mosby.
Potter, P. A., Perry, A. G.,
Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2013). Fundamentals of Nursing Eight
Edition. St.Louis Missouri: Elsevier Mosby.
Rumah,
30 April 2020
7
Ramadhan 1441 H


Komentar
Posting Komentar