![]() |
| sumber: unsplash.com |
Manusia itu seperti bunga. Bermacam-macam jenisnya dan punya keunikan sendiri-sendiri
Hidup
di dunia yang semakin modern, terkadang membuat manusia lupa untuk hidup
sebagai manusia yang lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hidup
di dunia yang semakin banyak tuntutan, membuat kebanyakan orang exhausted karena
selalu menuntut dirinya terus menerus. Tentang nilai cumlaude, pergi kesana
kemari, pekerjaan dengan gaji tinggi, dan sebagainya. Tidak salah sih, hanya
saja jika idealisme tersebut tidak tercapai apakah sudah memikirkan efek
sampingnya terhadap diri kita ? apakah sudah siap menerima hasilnya ?
Tidak
apa-apa memiliki idealisme tinggi, justru itu sebagai motivasi tetapi juga
harus diiringi pikiran yang realistis dan juga hati yang lapang untuk menerima
ketetapan takdir yang diberikan.
Aku
belajar tentang keperawatan jiwa di perkuliahan, yang merupakan salah satu
cabang keilmuan di keperawatan. Keperawatan jiwa berisi tentang kesehatan psikis
manusia yang ‘luka’nya tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat terlihat, yaitu dari
perilakunya. Oh iya orang yang sakit jiwa tidak serta merta langsung sakit,
tetapi ada step stepnya. Seperti misalnya orang yang kehilangan
pekerjaannya, awalnya orang tersebut hanya stres, tetapi karena stres
berkepanjangan orang tersebut lama-lama menjadi depresi, karena depresi yang
berkepanjangan juga lama-lama jadilah gangguan jiwa. Orang tersebut bisa
menjadi menarik diri dari lingkungan, merasa malu tidak mau makan, tidak mau
mandi, lalu bisa muncul halusinasi (orang tersebut bisa berbicara sendiri, matanya
seperti meliaht sesuatu, mondar mandir, dsb),bahkan yang lebih parah
halusiansinya bisa menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan bunuh diri. Berdasarkan
pengalamanku praktik di rumah sakit jiwa, orang yang sakit jiwa kebanyakan faktor
penyebabnya adalah harta, tahta, dan wanita haha. Untuk yang anak-anak bisa
karena kecanduan game, keluarga yang broken home, terlalu dituntut oleh
orangtuanya, dsb. Penyebabnya macam-macam. Tetapi tentu orang yang gangguan
jiwa itu memiliki faktor risiko lain seperti dari keturunan keluarganya ada yang
pernah mengalami gangguan jiwa.
Aku
banyak berbincang dengan pasien-pasien yang mengalami gangguan jiwa. Ternyata asik
juga ya mengobrol dengan mereka karena aku belajar banyak dari kehidupan
mereka. Ternyata banyak dari mereka yang menilai diri mereka negatif. Ada juga
yang terlalu pede hingga tidak sesuai dengan realita. Misalnya ngaku-ngaku
sebagai nabi, presiden, dokter, dsb. Untuk mereka yang menilai diri mereka
negatif mereka tidak bisa menyebutkan aspek positif dari diri mereka jika tidak
ditanya. Sehingga mereka menganggap mereka tidak berguna, tidak bisa apa-apa. Nah
ini yang disebut dengan harga diri rendah : penilaian/persepsi negatif terhadap
diri sendiri. Ternyata dengan mereka bisa menyebutkan kemampuan dirinya dan
kita melatihnya, membuat harga diri mereka naik. Membuat mereka merasa
berharga, “Oh iya ternyata saya masih bisa melakukan ini. oh iya ternyata saya
dulu pernah bisa melakukan itu”.
Namun,
bagi orang yang sehat pun terkadang ada yang merasa rendah diri termasuk aku
haha. Hidup di kampus yang lumayan bagus ternyata konsekuensi lainnya adalah
mahasiswanya juga keren-keren. Tetapi, terkadang kita menjadi tertipu dengan”definisi”
keren itu sendiri. Kita menganggap keren itu berdasarkan pencapaian orang lain.
Kita menjadi silau dengan pencapaian orang lain dan jika diri ini tidak seperti
itu maka tidak keren. I think, setiap orang punya definisi keren
masing-masing karena potensinya juga beda-beda. Ada yang pandai berkomunikasi
dengan anak-anak, lalu ikutlah dia kegiatan UI mengajar misalnya. Itu cocok
karena semakin meningkatkan potensi dirinya. Tetapi jika kamu tidak pandai di
bidang A lalu memaksakan diri di bidang A itu, bisa juga sih berkembang namun
jika idealismu tidak tercapai bisa berisiko untuk harga diri rendah karena
menganggap dirimu tidak mampu. Padahal sebenarnya kamu lebih mampu di bidang
lain.
Mari
kita melakukan perjalanan terjauh yaitu ke dalam diri sendiri. Sebenarnya apa
sih yang membuatmu merasa berharga dengan aspek positif yang ada pada dirimu?
Kalau
aku, merasa berharga jika aku bermanfaat untuk orang lain. Nah definisi
bermanfaat pun untuk setiap orang berbeda jadi jangan disamakan. Kalau bagiku
bermanfaat di sini adalah ketika aku bisa menjalankan peranku dengan baik sesuai
dengan minat dan kapasitasku. Seperti misalnya, 1) Saat aku dipercaya untuk
menjalani amanah tertentu di sebuah organisasi FIK, 2) Merawat pasien. Aku
masih teringat saat di minggu ke 3 profesi merawat luka pasien kanker mamae.
Aku mengganti perbannya setiap hari. Saat beliau pulang, beliau mengucapkan “Terima
kasih” sambil tersenyum. Di saat itu juga aku merasa bahagia. Dan berbagai
pengalaman merawat pasien yang lain. Ada rasa bahagia tersendiri karena setidaknya
kehadiranku ada artinya untuk mereka. Oh ya, aku juga pernah mencoba menolong
pasien yang akan meninggal dengan melakukan resusitasi jantung paru, tetapi
ternyata tidak berhasil ☹ 3) Bisa membuat orang lain bahagia. Dengan
pulang ke rumah misalnya. Atau dengan mendengarkan cerita teman. Saat ambil
data skripsi dulu, juga tidak sedikit responden yang saat aku tanya “Bu, sudah
sejak kapan hipertensinya?”. Langsung cerita panjang lebar. Aku bahagia menjadi
pendengar cerita. Semoga ke depannya bisa menjadi pendengar yang baik lagi ya. Pendengar
yang aktif, tidak menghakimi, sukur-sukur bisa memberikan solusi. Dan kalaupun
tidak bisa memberikan solusi tetapi bisa membuat orang lain lega. Menurutku
menjadi pendengar adalah salah satu hal yang bisa menyelamatkan seseorang dari mental
disorder 4) Saat menulis haha. Walaupun tulisannya masih berantakan dan
banyak kurangnya, tetapi aku bahagia karena bisa jujur ke diri sendiri. 5) Bisa
bertahan menjalani profesi sampai titik ini. Ya ini harus diapresiasi karena
untuk mengawali, menjalani, dan mengakiri tidak mudah ya. Mungkin jika suatu
saat ada yang bertanya apa pengalaman hidupmu yang paling mengesankan ? akan
aku jawab, menjadi mahasiswa profesi selama 1 tahun, bertemu dengan berbagai
jenis manusia, dan belajar melakukan semua tindakan medis.
Aku
rasa setiap orang harus rajin-rajin menuliskan aspek positif yang ada pada
dirinya. Tujuannya agar ketika seseorang sedang berada di titik terendah
hidupnya, bisa ingat lagi bahwa dirinya tak seburuk itu. Agar seseorang ingat
lagi bahwa dirinya itu keren dan berharga. Aku juga sedang belajar untuk
menghargai diri sendiri yang sampai ini sudah berjuang sampai titik ini. Ingat-ingat
kesehatan mental itu sangat penting. Salah satu cara untuk merawat tubuh tetap
sehat jiwa adalah dengan mengapresiasi diri dan mengingat aspek aspek positif
yang ada pada diri.
Terima
kasih untuk otakku yang tidak pernah protes karena selalu aku ajak untuk
berpikir setiap hari. Terima kasih untuk tubuhku yang telah bertahan untuk
terus sehat dan menjalani aktivitas yang super padat. Terima kasih kepada hatiku
yang sudah sabar menghadapi berbagai perasaan : bahagia, senang, sedih, kecewa,
moody, dsb. Kamu ternyata lebih kuat dari yang dulu. Dear self, terima
kasih sudah berjuang. Perjuangan ini belum berakhir, tetap kuat sampai nanti ya.
Selamat bersiap menjemput kejutan-kejutan hidup di depan sana.
Kalau
kamu, apa aspek positif yang ada pada dirimu ? Sudahkah kamu menghargai dan mensyukurinya
?
Rumah,
27 April 2020
4
Ramadhan 1441 H


Komentar
Posting Komentar