Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 4 : Aspek Positif Pada Diri Sendiri

sumber: unsplash.com
Manusia itu seperti bunga. Bermacam-macam jenisnya dan punya keunikan sendiri-sendiri

Hidup di dunia yang semakin modern, terkadang membuat manusia lupa untuk hidup sebagai manusia yang lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hidup di dunia yang semakin banyak tuntutan, membuat kebanyakan orang exhausted karena selalu menuntut dirinya terus menerus. Tentang nilai cumlaude, pergi kesana kemari, pekerjaan dengan gaji tinggi, dan sebagainya. Tidak salah sih, hanya saja jika idealisme tersebut tidak tercapai apakah sudah memikirkan efek sampingnya terhadap diri kita ? apakah sudah siap menerima hasilnya ?
Tidak apa-apa memiliki idealisme tinggi, justru itu sebagai motivasi tetapi juga harus diiringi pikiran yang realistis dan juga hati yang lapang untuk menerima ketetapan takdir yang diberikan.
Aku belajar tentang keperawatan jiwa di perkuliahan, yang merupakan salah satu cabang keilmuan di keperawatan. Keperawatan jiwa berisi tentang kesehatan psikis manusia yang ‘luka’nya tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat terlihat, yaitu dari perilakunya. Oh iya orang yang sakit jiwa tidak serta merta langsung sakit, tetapi ada step stepnya. Seperti misalnya orang yang kehilangan pekerjaannya, awalnya orang tersebut hanya stres, tetapi karena stres berkepanjangan orang tersebut lama-lama menjadi depresi, karena depresi yang berkepanjangan juga lama-lama jadilah gangguan jiwa. Orang tersebut bisa menjadi menarik diri dari lingkungan, merasa malu tidak mau makan, tidak mau mandi, lalu bisa muncul halusinasi (orang tersebut bisa berbicara sendiri, matanya seperti meliaht sesuatu, mondar mandir, dsb),bahkan yang lebih parah halusiansinya bisa menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan bunuh diri. Berdasarkan pengalamanku praktik di rumah sakit jiwa, orang yang sakit jiwa kebanyakan faktor penyebabnya adalah harta, tahta, dan wanita haha. Untuk yang anak-anak bisa karena kecanduan game, keluarga yang broken home, terlalu dituntut oleh orangtuanya, dsb. Penyebabnya macam-macam. Tetapi tentu orang yang gangguan jiwa itu memiliki faktor risiko lain seperti dari keturunan keluarganya ada yang pernah mengalami gangguan jiwa.
Aku banyak berbincang dengan pasien-pasien yang mengalami gangguan jiwa. Ternyata asik juga ya mengobrol dengan mereka karena aku belajar banyak dari kehidupan mereka. Ternyata banyak dari mereka yang menilai diri mereka negatif. Ada juga yang terlalu pede hingga tidak sesuai dengan realita. Misalnya ngaku-ngaku sebagai nabi, presiden, dokter, dsb. Untuk mereka yang menilai diri mereka negatif mereka tidak bisa menyebutkan aspek positif dari diri mereka jika tidak ditanya. Sehingga mereka menganggap mereka tidak berguna, tidak bisa apa-apa. Nah ini yang disebut dengan harga diri rendah : penilaian/persepsi negatif terhadap diri sendiri. Ternyata dengan mereka bisa menyebutkan kemampuan dirinya dan kita melatihnya, membuat harga diri mereka naik. Membuat mereka merasa berharga, “Oh iya ternyata saya masih bisa melakukan ini. oh iya ternyata saya dulu pernah bisa melakukan itu”.
Namun, bagi orang yang sehat pun terkadang ada yang merasa rendah diri termasuk aku haha. Hidup di kampus yang lumayan bagus ternyata konsekuensi lainnya adalah mahasiswanya juga keren-keren. Tetapi, terkadang kita menjadi tertipu dengan”definisi” keren itu sendiri. Kita menganggap keren itu berdasarkan pencapaian orang lain. Kita menjadi silau dengan pencapaian orang lain dan jika diri ini tidak seperti itu maka tidak keren. I think, setiap orang punya definisi keren masing-masing karena potensinya juga beda-beda. Ada yang pandai berkomunikasi dengan anak-anak, lalu ikutlah dia kegiatan UI mengajar misalnya. Itu cocok karena semakin meningkatkan potensi dirinya. Tetapi jika kamu tidak pandai di bidang A lalu memaksakan diri di bidang A itu, bisa juga sih berkembang namun jika idealismu tidak tercapai bisa berisiko untuk harga diri rendah karena menganggap dirimu tidak mampu. Padahal sebenarnya kamu lebih mampu di bidang lain.
Mari kita melakukan perjalanan terjauh yaitu ke dalam diri sendiri. Sebenarnya apa sih yang membuatmu merasa berharga  dengan aspek positif yang ada pada dirimu?
Kalau aku, merasa berharga jika aku bermanfaat untuk orang lain. Nah definisi bermanfaat pun untuk setiap orang berbeda jadi jangan disamakan. Kalau bagiku bermanfaat di sini adalah ketika aku bisa menjalankan peranku dengan baik sesuai dengan minat dan kapasitasku. Seperti misalnya, 1) Saat aku dipercaya untuk menjalani amanah tertentu di sebuah organisasi FIK, 2) Merawat pasien. Aku masih teringat saat di minggu ke 3 profesi merawat luka pasien kanker mamae. Aku mengganti perbannya setiap hari. Saat beliau pulang, beliau mengucapkan “Terima kasih” sambil tersenyum. Di saat itu juga aku merasa bahagia. Dan berbagai pengalaman merawat pasien yang lain. Ada rasa bahagia tersendiri karena setidaknya kehadiranku ada artinya untuk mereka. Oh ya, aku juga pernah mencoba menolong pasien yang akan meninggal dengan melakukan resusitasi jantung paru, tetapi ternyata tidak berhasil  3) Bisa membuat orang lain bahagia. Dengan pulang ke rumah misalnya. Atau dengan mendengarkan cerita teman. Saat ambil data skripsi dulu, juga tidak sedikit responden yang saat aku tanya “Bu, sudah sejak kapan hipertensinya?”. Langsung cerita panjang lebar. Aku bahagia menjadi pendengar cerita. Semoga ke depannya bisa menjadi pendengar yang baik lagi ya. Pendengar yang aktif, tidak menghakimi, sukur-sukur bisa memberikan solusi. Dan kalaupun tidak bisa memberikan solusi tetapi bisa membuat orang lain lega. Menurutku menjadi pendengar adalah salah satu hal yang bisa menyelamatkan seseorang dari mental disorder 4) Saat menulis haha. Walaupun tulisannya masih berantakan dan banyak kurangnya, tetapi aku bahagia karena bisa jujur ke diri sendiri. 5) Bisa bertahan menjalani profesi sampai titik ini. Ya ini harus diapresiasi karena untuk mengawali, menjalani, dan mengakiri tidak mudah ya. Mungkin jika suatu saat ada yang bertanya apa pengalaman hidupmu yang paling mengesankan ? akan aku jawab, menjadi mahasiswa profesi selama 1 tahun, bertemu dengan berbagai jenis manusia, dan belajar melakukan semua tindakan medis.
Aku rasa setiap orang harus rajin-rajin menuliskan aspek positif yang ada pada dirinya. Tujuannya agar ketika seseorang sedang berada di titik terendah hidupnya, bisa ingat lagi bahwa dirinya tak seburuk itu. Agar seseorang ingat lagi bahwa dirinya itu keren dan berharga. Aku juga sedang belajar untuk menghargai diri sendiri yang sampai ini sudah berjuang sampai titik ini. Ingat-ingat kesehatan mental itu sangat penting. Salah satu cara untuk merawat tubuh tetap sehat jiwa adalah dengan mengapresiasi diri dan mengingat aspek aspek positif yang ada pada diri.
Terima kasih untuk otakku yang tidak pernah protes karena selalu aku ajak untuk berpikir setiap hari. Terima kasih untuk tubuhku yang telah bertahan untuk terus sehat dan menjalani aktivitas yang super padat. Terima kasih kepada hatiku yang sudah sabar menghadapi berbagai perasaan : bahagia, senang, sedih, kecewa, moody, dsb. Kamu ternyata lebih kuat dari yang dulu. Dear self, terima kasih sudah berjuang. Perjuangan ini belum berakhir, tetap kuat sampai nanti ya. Selamat bersiap menjemput kejutan-kejutan hidup di depan sana.
Kalau kamu, apa aspek positif yang ada pada dirimu ? Sudahkah kamu menghargai dan mensyukurinya ?

Rumah, 27 April 2020
4 Ramadhan 1441 H



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H