Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 5 : Badai Kegagalan

sumber : unsplash.com
Kala itu aku sedang semangat-semangatnya mengejar cita-citaku. Aku sudah membuat peta kemana aku melangkah. Aku juga sudah membuat rancangan seperti apa duniaku akan kubangun. Perbekalanku sudah siap.  Aku  persiapkan tubuh yang sehat, rohani yang kuat, dan pikiran yang jernih agar aku dapat mewujudkan cita-citaku itu. Perlahan aku mulai berjalan sambil membawa peta. Setelah sekian lama berjalan, ada yang aneh. Jalan ini tampak sunyi, aku menjadi satu-satunya yang menelusuri jalan ini. Tetapi aku tidak peduli, tujuanku ada di depan sana dan aku akan membangun duniaku di sana. Aku harus segera bergegas menujunya. Dan aku semakin menikmati jalan yang sunyi ini.

Sesekali aku bernyanyi sebuah lagu “Dibalik Gunung”
Seandainya kau tahu bahwa kau sungguh berharga
Kau bisa jadi apa saja asal kau berupaya
Seandainya kau tau apa doa ayah dan bunda
Tak mungkin sampai tega mematahkan isinya
Teruslah bergerak hingga rasa lelah
Sendiri kelelahan mengikutimu
Sebab nanti suatu hati kau akan tersenyum setiap pagi
Menikmati jerih diri dan segala yang telah kau lalui
Sebab nanti suatu hari kau punya cerita tuk dibagi
Tentang mimpi yang tak pasti namun kau membuatnya terjadi
Belum saatnya berhenti ayo terus mendaki
Sudah tak jauh lagi ayo terus dekati
Seandainya kau tahu apa di balik gunung sana
Terhampar padang bunga-bunga kau akan bahagia
Seandainya kau tahu bahwa anak-anakmu kelak
Inginkan sebuah  cerita pahlawan di hidupnya
Teruslah bergerak hingga rasa lelah
Sendiri kelelahan mengikutimu

Di jalanku yang sunyi, ternyata kamu tiba tiba datang dan menjadi satu-satunya bunyi : badai kegagalan.
Aku tidak paham, kenapa kamu selalu mendatangiku di kala aku sedang semangat-semangatnya meraih cita-citaku. Kala itu kamu datang saat aku berjalan menuju ke tempat ini. Sekarang aku sudah melanjutkan perjalananku lagi untuk menuju cita-citaku yang lain, kamu juga datang lagi.
Di antara pancaran sinar semangatku, kamu tiba-tiba datang tanpa permisi memporak porandakan duniaku. Duniaku yang awalnya indah, damai, dan penuh dengan semangat tiba-tiba menjadi muram begitu  saja. Bayangkan saja, aku sedang gigih gigihnya membangunnya kamu tiba-tiba menghancurkannya. Kamu lebih dari jahat.
Aku tidak paham, apa visimu datang kepadaku secara tiba-tiba. Apakah kamu datang ke setiap orang atau hanya kepadaku saja ?  Namun pertanyaan itu tak mampu kuutarakan, hanya menggantung di langit langit. Aku pun tak kunjung menemukan jawabannya.
Pasca kedatanganmu, aku mencoba kembali menyusun puing-puing semangatku yang telah pudar. Aku kembali mencoba pancarkan sinar harapan. Tetapi nihil. Sinarku tak mampu menerangi gelapnya duniaku. Aku mengaku kalah. Aku kemudian hanya bisa merutuki diriku, “kenapa aku tidak menyiapkan kedatanganmu ?”
Hingga suatu hari, aku bermimpi bahwa kamu tidak hanya datang kepadaku. Kamu datang ke setiap orang yang juga sedang mengejar cita-citanya. Kamu juga telah menghancurkan cita-cita orang lain itu. Di mimpiku kamu berkata bahwa kamu ingin mengajarkan kepada kami arti berjuang, tetap gigih menuju tujuan, dan pantang menyerah. Kamu juga berkata, kamu sama sekali tidak ingin menghancurkan cita-cita umat manusia. Justru kamu ingin menunjukkan jalan yang benar, jalan yang lebih efektif untuk menuju tujuan. Terkadang untuk memberikan pelajaran harus dengan cara yang menyakitkan, agar umat manusia belajar. Kamu juga mengatakan untuk mendidik kami agar memiliki mental yang lebih kuat. Cita-cita itu terlalu murah jika diberikan kepada yang bermental kerupuk. Karena salah satu konsekuensi dari tercapainya satu cita-cita adalah manusia akan melemparkan cita-citanya lebih jauh lagi. Maka, tentulah diperlukan mental yang lebih kuat.
 Berjalan di jalan cita-cita itu tidak mudah : harus kuat menghadapi rintangan yang terkadang menghancurkan tetapi menguatkan.
Aku sekarang paham maksud kedatanganmu. Terima kasih ‘kegagalan’ !

Ternyata, dalam berjalan menggapai impian diperlukan bekal untuk menghadapi kegagalan agar tidak kolaps. Kegagalan itu menyakitkan tetapi kegagalan itu hanyalah keberhasilan yang tertunda. Memang ya, kadang kita harus jatuh dulu agar kita bisa bangkit dan belajar.

Rumah, 28 April 2020
5 Ramadhan 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H