![]() |
| sumber : unsplash.com |
Sesekali
aku bernyanyi sebuah lagu “Dibalik Gunung”
Seandainya
kau tahu bahwa kau sungguh berharga
Kau
bisa jadi apa saja asal kau berupaya
Seandainya
kau tau apa doa ayah dan bunda
Tak
mungkin sampai tega mematahkan isinya
Teruslah
bergerak hingga rasa lelah
Sendiri
kelelahan mengikutimu
Sebab
nanti suatu hati kau akan tersenyum setiap pagi
Menikmati
jerih diri dan segala yang telah kau lalui
Sebab
nanti suatu hari kau punya cerita tuk dibagi
Tentang
mimpi yang tak pasti namun kau membuatnya terjadi
Belum
saatnya berhenti ayo terus mendaki
Sudah
tak jauh lagi ayo terus dekati
Seandainya
kau tahu apa di balik gunung sana
Terhampar
padang bunga-bunga kau akan bahagia
Seandainya
kau tahu bahwa anak-anakmu kelak
Inginkan
sebuah cerita pahlawan di hidupnya
Teruslah
bergerak hingga rasa lelah
Sendiri
kelelahan mengikutimu
Di
jalanku yang sunyi, ternyata kamu tiba tiba datang dan menjadi satu-satunya bunyi
: badai kegagalan.
Aku
tidak paham, kenapa kamu selalu mendatangiku di kala aku sedang
semangat-semangatnya meraih cita-citaku. Kala itu kamu datang saat aku berjalan
menuju ke tempat ini. Sekarang aku sudah melanjutkan perjalananku lagi untuk
menuju cita-citaku yang lain, kamu juga datang lagi.
Di
antara pancaran sinar semangatku, kamu tiba-tiba datang tanpa permisi memporak
porandakan duniaku. Duniaku yang awalnya indah, damai, dan penuh dengan
semangat tiba-tiba menjadi muram begitu saja. Bayangkan saja, aku sedang gigih
gigihnya membangunnya kamu tiba-tiba menghancurkannya. Kamu lebih dari jahat.
Aku
tidak paham, apa visimu datang kepadaku secara tiba-tiba. Apakah kamu datang ke
setiap orang atau hanya kepadaku saja ? Namun
pertanyaan itu tak mampu kuutarakan, hanya menggantung di langit langit. Aku pun
tak kunjung menemukan jawabannya.
Pasca
kedatanganmu, aku mencoba kembali menyusun puing-puing semangatku yang telah
pudar. Aku kembali mencoba pancarkan sinar harapan. Tetapi nihil. Sinarku tak
mampu menerangi gelapnya duniaku. Aku mengaku kalah. Aku kemudian hanya bisa
merutuki diriku, “kenapa aku tidak menyiapkan kedatanganmu ?”
Hingga
suatu hari, aku bermimpi bahwa kamu tidak hanya datang kepadaku. Kamu datang ke
setiap orang yang juga sedang mengejar cita-citanya. Kamu juga telah menghancurkan
cita-cita orang lain itu. Di mimpiku kamu berkata bahwa kamu ingin mengajarkan
kepada kami arti berjuang, tetap gigih menuju tujuan, dan pantang menyerah. Kamu
juga berkata, kamu sama sekali tidak ingin menghancurkan cita-cita umat
manusia. Justru kamu ingin menunjukkan jalan yang benar, jalan yang lebih
efektif untuk menuju tujuan. Terkadang untuk memberikan pelajaran harus dengan cara
yang menyakitkan, agar umat manusia belajar. Kamu juga mengatakan untuk mendidik
kami agar memiliki mental yang lebih kuat. Cita-cita itu terlalu murah jika
diberikan kepada yang bermental kerupuk. Karena salah satu konsekuensi dari
tercapainya satu cita-cita adalah manusia akan melemparkan cita-citanya lebih
jauh lagi. Maka, tentulah diperlukan mental yang lebih kuat.
Berjalan di jalan cita-cita itu tidak mudah : harus
kuat menghadapi rintangan yang terkadang menghancurkan tetapi menguatkan.
Aku
sekarang paham maksud kedatanganmu. Terima kasih ‘kegagalan’ !
Ternyata,
dalam berjalan menggapai impian diperlukan bekal untuk menghadapi kegagalan
agar tidak kolaps. Kegagalan itu menyakitkan tetapi kegagalan itu hanyalah
keberhasilan yang tertunda. Memang ya, kadang kita harus jatuh dulu agar kita
bisa bangkit dan belajar.
Rumah,
28 April 2020
5
Ramadhan 2020


Komentar
Posting Komentar