Langsung ke konten utama

Ramadhan Day 6 : Menjadi Nyata Di Antara Maya

sumber : unsplash.com


Teknologi dapat mempermudah hidup manusia, tetapi di sisi lain dapat memperbudak manusia (?)
Terkadang, aku ingin kembali ke masa-masa 5 tahun yang lalu dimana aku tidak begitu aktif bersosial media. Saat itu, aku tidak mengerti apa itu instagram, line, linkedin, dan sebagainya. Aku hanya mengerti facebook, twitter, dan whatsapp, pun aku tidak terlalu aktif menggunakannya. Saat itu, aku juga merasa lebih aktif berkomunikasi secara nyata daripada komunikasi melalui dunia maya.  Namun, semua berubah setelah negara api menyerang. Kehidupan kuliah mengubah segalanya. Aku dituntut untuk dapat berkomunikasi secara online setiap saat. Berbagai grup kuliah, organisasi, dan paguyuban mulai aku masuki. Iya, setiap saat karena saat maba tugas ospek dapat datang begitu saja. Begitu juga dengan info-info perkuliahan. Tiba-tiba ganti jadwal, tiba-tiba ada tugas tambahan, tiba-tiba deadline tugas dimajukan, dan lain sebagainya. Begitu juga di PERHIMAK UI, banyak juga kegiatan mahasiswa baru bersama mereka.
Penggunaan sosial media masih berlanjut sampai sekarang. Apalagi sekarang, ternyata lebih maju dari 5 tahun yang lalu (rasanya). Di masa sekarang mayoritas masyarakat sudah menggunakan sosial media walaupun hanya whatsapp. Semua kalangan pun menggunakan. Mulai dari ojek online hingga pejabat. Tak lupa, emak emak di rumah, anak-anak SD, SMP pun sudah menggunakan. Pesat sekali ya perkembangan teknologi saat ini. Sekarang pun semua aktivitas dapat dilakukan secara online seperti banyaknya online shop, konsultasi kesehatan, aktivitias belajar, pesan makanan, dsb. Ya, semuanya sekarang serba online.
Sejujurnya, aku senang dengan perkembangan teknologi yang sepesat ini. Sangat mempermudah kehidupan manusia. Manusia menjadi lebih hemat waktu untuk membeli sesuatu yang bisa dibeli secara online, bisa lebih hemat tenaga, dan manusia menjadi bisa terhubung kapanpun, dimanapun, asal ada sinyal internet. Aku sendiri juga sangat merasakan dampaknya. Sangat mempermudah hidupku. Aku juga bisa menjadi bisa berkomunikasi dengan teman-teman kapanpun dimanapun. Apalagi sekarang, di masa masa pandemi ini. dimana semuanya dilakukan secara online. Belajar dari rumah, bekerja dari rumah, meeting onlien, dsb. Sangat terasa sekali kan ya manfaatnya.
Namun, di sisi lain adanya smartphone, aku melihat di KRL, di bikun, di stasiun, dimanapun orang-orang sibuk dengan HP mereka. komunikasi antar manusia serasa harus selalu dilakukan secara online, lupa kalau di dalam dunia nyata kita masih dapat berkomunikasi. Dan yang lebih parah, saat ngumpul dengan teman, atau saat rapat organisasi, masih ada saja yang sibuk dengan HP mereka, seperti lupa dengan sekitarnya.
Anehnya, di masa pandemi ini, ketika semuanya dilakukan serba online. Orang-orang rindu ingin segera bisa hidup dengan normal. Baru merasakan ya, walaupun pertemuan bisa dilakukan secara online tetapi tetap ada yang membatasi, dan ya semakin merasa sepi diantara keramaian. Orang-orang mulai ingin hidup di dunia nyata, bukan maya.
Apakah orang-orang mulai sadar bahwa hidup di dunia nyata itu jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan hidup di dunia maya ?
Aku pun demikian.
Ada satu waktu, aku ingin mencoba hidup normal seperti aku belum memasuki kuliah. Bodoamat lah sama sosial media. Dan aku mencobanya mulai ramadhan ini. Aku mengurangi 1 sosial mediaku yaitu instagram. Mengapa instagram ? karena di sana terlalu ramai dan terlalu banyak pencitraan. Disitu semuanya seperti terlihat sempurna. Kehidupan orang-orang pun seperti tanpa cela. Hal itu membuatkau insecure. Padahal kan kenyataannya tidak. Dan aku paling tidak suka melihat orang yang marah-marah di sana. Seperti saat ada banyak orang yang menggunakan handscoon medis untuk berbelanja di supermarket, harusnya kan kalau mau berkomentar ya tegur saja orangnya langsung bukan dengan cara marah-marah di instagram. Ya ga bakal nyampe lah kritiknya.
Saat covid 19 baru sampai di Indonesia, juga banyak sekali orang yang gembar gembor cara pencegahan dsb di sosial media, tetapi tidak banyak yang turun langsung untuk gembar gembor ke orang -orang yang tidak memakai sosial media. Seperti orang-orang yang di kampung misalnya. Kebanyakan dari mereka mengerti informasi tersebut hanya dari televisi dan dari mulut ke mulut. Padahal mereka juga berisiko. Walaupun dengan berbagi informasi di sosial media memang efektif tetapi jangan lupakan orang-orang yang tidak memakai sosial media.
Selain itu, aku ingin hidup sepenuhnya menjadi manusia di dunia nyata bukan di dunia maya. Aku ingin lebih dekat dengan keluarga, tetangga sekitar, dan orang lain yang juga hidup di dunia nyata. Aku ingin melatih komunikasiku yang masih kurang efektif ini. Aku ingin belajar menjadi lebih peduli dengan sekitarku karena lingkungan sekitarku adalah orang-orang terdekatku. Aku ingin jujur kepada diri sendiri tentang apa adanya diriku yang diliputi kebahagiaan, kesedihan, dan emosi lain. Aku bukan manusia yang tanpa cela dan aku harus menyadarinya agar aku dapat memperbaiki segera meski tidak selalu sempurna. Dan aku tidak ingin selalu melihat kesilauan yang ada di dunia maya. Aku tidak ingin membandingkan diri ku dengan yang lain. Dan ya sepertinya jiwa introvertku kelelahan jika harus terus menghadapi itu semua. I want to be real. Menjadi untuh sebagai manusia di dunia nyata.
Oh ya, dan aku juga tidak ingin jika ada yang ingin mengetahui kabar atau kondisiku dengan melihat sosial mediaku. Kan tidak semuanya terpampang ada di sana. Kangen ga sih ditanya “Apa kabar ?”, apa kabar yang benar-benar tulus, bukan sekedar basa basi apalagi modus.
Kangen ga sih saat bertemu, semuanya fokus untuk saling memperhatikan satu sama lain, bukan fokus main HP. Kangen ga sih dunia kita ini sepi dan hanya ada seorang diri tanpa ada distraksi dari orang lain. Kangen ga sih waktu kita dihabiskan untuk hal-hal positif dibandingkan scroll ga penting di dunia maya. Kangen ga sih menjadi manusia seutuhnya di dunia nyata ?
Iya, teknologi memang menguntungkan tetapi juga merugikan. Semua itu tergantung dari kita yang mengendalikan. Mari manfaatkan tekonologi dengan sewajarnya. Tetapi jangan lupa untuk menjadi manusia yang hidup di dunia nyata.
Aku ingin menjadi manusia seutuhnya di dunia nyata : bukan bayang-bayang.
Ada 1 hal lagi yang tidak bisa dibeli atau ditukar dengan apapun : pertemuan.

Rumah, 29 April 2020
6 Ramadhan 1441 H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H