Langsung ke konten utama

Mengambil Berkahnya


Ada yang unik di sebuah warung es krim di jalan dekat kosan saya di Depok. Warung es krim itu terhitung baru buka sekitaran setahun yang lalu. Setiap hari saya melewatinya dan memperhatikan warung tersebut. Saya perhatikan dari dulu sampai sekarang dan walaupun pelayan yang menunggu sempat ganti beberapa kali,  tetapi setiap jam sholat warungnya tutup dan dipintunya ditulis “Abangnya agi istirahat, sholat. Tunggu ya😊 “. Ini yang membuat berbeda dengan warung-warung yang lain. Ya meskipun warung yang lain mungkin juga tetap melakukan kewajiban dan bergantian, tetapi warung ini juga memberikan tulisan yang bisa saja menjadi ajakan untuk yang lain untuk melakukan sholat.
Waktu saya sedang praktik di sebuah sasana tresna werdha, adek tingkat minta tolong kepada saya untuk maketin mapnya yang tertinggal di sana. Kebetulan saat itu saya masih praktik di sana. Kebetulan juga hari itu hari jumat pukul 11.00. Karena jam 13.00 saya ada jadwal presentasi saya akhirnya memesan ojek online untuk mengantarkan map adek tingkat saya. Sebenarnya saya ragu karena takut mengganggu waktu jumatan bapak ojeknya. Tetapi kata teman saya biasanya yang ngambil itu yang nonis kok. Oke, saya pede saja pesan.
Sesaat setelah bapaknya ngambil mapnya, bapaknya ngechat “neng ini buru-buru ga ? Saya mau jumatan dulu ya.”
Saya langsung menjawab, “Oh tidak pak. Santai saja. Bapak sholat jumat dulu saja. Terima kasih ya pak.”
Bapak tersebut membalas lagi, “Terima kasih ya neng.”
Hari jumat kemarin, saya dan ibu saya ke Gombong mengurus sesuatu dan pulangnya mampir ke tempat es buah untuk membelinya. Saat itu jam menunjukkan pukul 11.45. Waktu sampai ke warungnya ternyata warungnya sudah tutup tetapi masih ada 1 bungkus es buah yang sudah terbungkus. “Beli berapa bu?” tanya bapak penjualnya. “Beli 1 aja pak.” Jawab ibu saya. “Oh ini pas banget masih sisa 1. Saya mau jumatan dulu.”
Sesaat melayani kami, bapak penjual tersebut langsung pergi mengendarai motor untuk jumatan.
Ternyata, di balik keadaan dunia sekarang yang katanya serba kacau dan bebas. Masih banyak orang orang yang taat. Orang-orang yang tetap mau menjalankan kewajibannya dan rela menutup sementara tokonya/istirahat sementara dari narik ojek untuk beribadah. Katanya, jika kita mengutamakan dunia dulu kita hanya akan dapat dunia saja. Tetapi jika kita mengutamakan akhirat, dunia juga akan mengikuti. Semoga Allah memberkahi bapak-bapak tadi. Semoga rezekinya dilancarkan dan diberikahi. Aamiiinn.
Saya jadi merenung, kalau sudah dapat pekerjaan yang tetap memudahkan kita untuk beribadah, itu menjadi nikmat yang harus kita syukuri. Kita masih dapat kelonggaran untuk melaksanakan ibadah. Allah masih sayang ke kita dengan mengizinkan kita tetap mempertahankan ibadah kita. Namun terkadang banyak masih saja yang merasa ga sempat atau tidak punya waktu. Karena sebenarnya lapang/sempit persepsi dari manusia itu sendiri.
Saya jadi teringat, dalam islam ada yang disebut dengan aqidah yaitu cara pandang manusia secara menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan. Bisa juga disebut dengan keyakinan manusia diciptakan oleh Allah, tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah, dan akan kembali ke Allah. Bapak-bapak tadi, sekilas dapat sebagai contoh sebagai orang-orang yang aqidahnya kokoh karena selain bekerja juga mempersiapkan bekal akhirat dengan tetap taat. Dengan aqidah yang kokoh, manusia menjadi paham hakikat kehidupan. Sehingga dalam hidup ini selalu berjuang agar apa apa yang dilakukan dapat bernilai ibadah.
Oh iya, ibadah di sini juga tidak hanya seperti sholat, puasa, membaca Al Quran, dll.
Ternyata ibadah juga ada 3 dimensi, yaitu :
1.      Hubungan dengan Allah : sholat, puasa, membaca Al Quran, zakat, haji, dsb
2.      Hubungan dengan diri sendiri : makan makanan yang halal dan tayib, memakai pakaian sesuai syariat, menuntut ilmu, mandi, dsb.
3.      Hubungan dengan manusia lain : Membantu orang lain yang kesusahan, berkata yang baik, mengajar, dsb.
Semua hal tersebut dapat bernilai ibadah jika kita melakukannya sesuai dengan adabnya. Sehingga sebelum beramal harus berilmu dulu agar apa apa yang kita lakukan dapat bernilai ibadah.
PR juga buat saya yang masih harus banyak belajar adab karena masih banyak ga ngertinya
Note to myself juga, bahwa apa apa yang di dunia ini hanya sementara, sehingga lakukanlah hal hal yang bernilai ibadah sehingga tidak sia-sia. Tak ada yang dapat menolong kita selain amal-amal kita dan Rahmatnya Allah.
Yuk, kuatkan lagi aqidahnya !
Apalagi aku yang masih mood moodan gini ingetin destin juga ya !

Rumah, 5 April 2020


Komentar

  1. Masya Allah, semoga kita selalu istiqomah dalam menjalankan perintahnya, aamiin..

    BalasHapus
  2. MaasyaaAllaah :) terimakasih kak sudah menulis dan berbagi tentang hal ini. Mengenai; dahulukan akhirat maka dunia akan mengikuti, saya sudah tahu sejak lama. Alhamdulillah sekarang teringatkan lagi. Jadi tersadar kembali apa yang menjadi prioritas hidup :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H