Langsung ke konten utama

Harga Diri Perempuan


Saya pernah membaca sebuah novel sastra yang berjudul perawan remaja dalam dekapan militer. Dalam novel tersebut menceritakan tentang para penyerahan para perawan remaja oleh orangtuanya kepada Jepang untuk katanya disekolahkan. Sebenarnya orangtua sudah mencurigai Jepang karena Jepang tidak mengeluarkan informasi secara resmi. Namun karena takut akan ancaman Jepang, orangtua hanya bisa menuruti perintah Jepang. Ternyata, dugaan orangtua mereka benar, para perawan remaja tersebut diangkut menggunakan kapal dan tidak disekolahkan. Di dalam kapal, mereka sebagai gadis penghibur Jepang. Ya, keperawanan mereka direnggut begitu saja oleh tentara Jepang demi untuk memenuhi hawa nafsu tentara Jepang. Ada juga yang belum diangkut, mereka masih berada di Jakarta seperti di sebuah basecamp namun tempatnya sangat tertutup. Nasib perawan remaja di sana juga sama. Ada juga yang ditelantarkan ke sebuah pulau. Para perawan remaja tersebut sebenarnya sangat ingin pulang ke rumah, namun karena kondisi mereka yang menjadi merasa terhina dan sudah tidak punya harga diri lagi, mereka mengurungkan niatnya.

Begitulah, keadaan remaja perempuan zaman dahulu yang masih sangat rapi melindungi dirinya, yang masih memiliki malu untuk berbuat serong. Ya, perempuan di zaman dulu masih sangat didiskriminasi. Pasti ada yang pernah mendengar istilah “perempuan itu hanya tugasnya di kasur, sumur,dan dapur”. Apakah sebegitu rendahnya ?
Padahal, apalah jadinya jika di dunia ini tidak ada perempuan. Tidak akan lahir generasi-generasi hebat itu.
Tapi mungkin, yang saya amati sekarang, banyak perempuan yang justru merendahkan dirinya sendiri. Misalnya, dengan upload foto yang sedikit senonoh di sosial media, berpakaian terlalu terbuka, dan tidak tahu unggah-ungguh dalam bersikap. Mungkin agak sedikit klise karena menilai orang hanya dari luar, tetapi menurut saya, tampilan orang menunjukkan bagaimana karakter orang tersebut. Dengan banyaknya perempuan yang seperti itu, si laki-laki semakin menjadi-jadi untuk menginginkan perempuan (tentu tidak semua lelaki begini, tetapi ada). Jadi kadang suka bingung kalau ada pelecehan seksual. Antara perempuannya yang menantang atau laki-lakinya yang tidak bisa menahan diri ? ini sama seperti menanyakan duluan mana antara ayam dan terlur, jadilah debat kusir.

Jadi,  menjadi perempuan harus pandai-pandai dalam melindungi diri, pandai menjaga harga diri. Dengan bertutur sopan, berpakaian rapi dan tertutup, serta nurut sama unggah-ungguh dalam bersikap. Selain itu juga terus belajar agar pengetahuannya luas. Dengan begitu, pandangan masyarakat terhadap perempuan tidak seperti dulu lagi, tidak merendahkan lagi. Justru dengan kita bersikap seperti yang sudah saya jelaskan di atas, orang lain akan lebih menghargai kita. Karena harga diri bukan terletak pada seberapa mahal barang yang kita pakai, dan bukan pada seberapa cantik kita. Tetapi pada sikap, tutur kata, kualitas otak, dan darimana dia menghargai diri sendiri.

#30DWC#30DWCJilid14#Day15


Depok, 5 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H