Langsung ke konten utama

Memimpin Diri Sendiri

sumber : www.google.com

Kepemimpinan bukan hanya ada di dalam organisasi, tetapi juga pada diri sendiri. Memimpin diri sendiri merupakan tantangan bagi sebagian besar orang. Karena memimpin diri sendiri berarti harus bisa mengendalikan diri sendiri. Layaknya organisasi, diri sendiri pun seharusnya memiliki visi misi, memiliki program kerja, dan memiliki perencanaan yang matang. Keberhasilan memimpin diri sendiri juga sejalan dengan keberhasilan hidup loh. Bagaimana bisa ?
Visi diri sendiri adalah tujuan hidup. Sedangkan misi adalah hal-hal yang mendukung untuk mencapai tujuan hidup tersebut. Misalnya visi hidup saya adalah menjadikan ilmu sebagai saran beribadah. Misinya berarti harus sekolah setinggi mungkin, lalu mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain dengan cara menjadi dosen misalnya, bisa juga membuat sebuah home care yang di dalam home care tersebut orang-orang bisa mendapatkan informasi mengenai kesehatan lalu mereka mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari, jadinya amal jariyah kan yang kita dapat ?
Program kerja merupakan hal-hal yang harus dikerjakan untuk mencapai visi misi. Tadi kan misalnya visi hidup saya menjadikan ilmu sebagai sarana beribadah, salah satu visi saya adalah sekolah setinggi-tingginya. Nah program kerja adalah bagaimana saya bisa mencapai hal tersebut. Misalnya saya membuat program 1 jam belajar grammar untuk meningkatkan Bahasa Inggris saya untuk studi lanjut. Program 1 bulan 1 prestasi untuk mengupgrade kemampuan saya. 1 hari ½ juz sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, dan sebagainya. Intinya program ini adalah sebuah perbuatan yang mendukung visi misi hidup kita. Selain itu, kita juga harus membuat perencaan. Tetapkan kapan visi misi tersebut harus dicapai, lalu masukkan program kerja yang telah kita buat dalam kehidupan sehari-hari. Rencanakan kapan kita harus belajar mata kuliah, kapan belajar Bahasa Inggris, kapan mengaji, dan sebagainya. Tujuannya adalah agar lebih tertata dan terarah.
Namun ada  yang tak kalah penting dalam memimpin diri sendiri adalah self-control. Saya pernah membaca di sebuah buku PhD Parent Stories, bahwa ada sebuah kisah 2 anak di dalam sebuah ruangan tertutup dan disediakan 1 potong semangka untuk masing-masing anak. Di sana ayahnya mengatakan bahwa jika sang anak berhasil tidak memakan semangka sampai ayahnya kembali lagi, maka sang anak akan mendapatkan 2 semangka tambahan dari ayahnya. Sang ayah juga memasang CCTV di dalam ruangan tersebut untuk memantau anaknya. Setelah ayahnya pergi, si A tidak tahan untuk memakan semangka, pada akhirnya si A memakan semangka. Lalu si B dia tahan untuk tidak memakan semangka, karena dia tahu kalau dia berhasil tidak makan semangka dia akan mendapatkan semangka tambahan dari ayahnya. Ketika sang ayah kembali, sang ayah memberikan 2 semangka tambahan kepada si B karena berhasil tidak memakan semangka sesuai dengan pesan ayahnya tadi.
Dalam hal ini kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, kita perlu kontrol diri yang bagus supaya tidak tergoda dengan hal hal yang remeh-remeh yang akan merusak jalan kita menuju visi misi kita. Dalam buku tersebut juga dusebutkan bahwa orang yang memiliki kontrol diri yang bagus cenderung lebih sukses dalam hidupnya karena dia berhasil memimpin diri sendiri tetap on the tract menuju tujuan hidupnya. Sebutlah kak Dewina, beliau sangat hebat dengan pencapaian-pencapaiannya. Menjadi mahasiswa beprestasi utama FKM UI, S2 di Imperial College London, dan sekarang sudah lulus S3 di University College London. Beliau juga berhasil menerbitkan beberapa jurnal internasional dan berhasil menerbitkan 2 buku. Tapi dibalik itu semua ada kepemimpinan dan kontrol diri yang bagus dalam diri beliau.
Jadi, kepemimpinan terhadap diri sendiri sangat penting untuk menentukan masa depan kita. Apakah semakin dari visi misi hidup atau malah semakin menjauh dari visi misi hidup.
Selamat memimpin 😊

#30DWC#30DWCJilid14#Day17
Depok, 7 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...