Langsung ke konten utama

Tembok Bahaya Bernama Pergaulan

sumber : www.google.com


Sudah 3 tahun saya tinggal di kota besar dan Alhamdulilah saya  masih dijaga olehNya dalam lingkaran lingkungan yang baik. Memang ya, yang namanya rezeki bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga lingkungan baik. Lingkungan di perkotaan sangatlah berbeda dengan di pedesaan. Selain di desa ada kerabat yang juga ikut mengawasi, di desa juga tidak terlalu terpapar oleh pergaulan bebas. Di desa unggah – ungguhnya masih sangat kental. Berbeda dengan di perkotaan, yang orang-orangnya cenderung bodoamat dan individual. Pergaulannya pun lebih ekstrim. Sehingga sangat diperlukan sekali bekal keimanan dan juga budi pekerti yang baik agar ketika di kota tidak terbawa oleh pergaulan menyimpang. Seperti misalnya ikut-ikutan temannya merokok, minum-minuman keras, sex bebas, narkoba, dan sebagainya. faktor lingkunganlah yang paling berpengaruh.

Saya pernah melakukan wawancara kepada orang dengan pengguna NAPZA. Beliau tinggal di kota hanya bersama kakanya. Saat itu dia masih SMP, dan kakaknya sibuk bekerja. Masa SMP adalah masa-masa labil, ditambah lagi dengan orangtua yang tidak mengawasi, lalu lingkungan pergaulannya dia juga tidak baik. Hingga sejak SMP dia mengonsumsi narkoba dengan teman-temannya. Sampai hari ini pun saat beliau sudah berumur 25an tahun, masih mengonsumsi. Namanya sudah kacanduan susah untuk dihilangkan. Beliau juga belum terbuka hatinya untuk melakukan rehabilitasi. Beliau juga sudah memiliki anak namun anak yang pertama adalah karena hasil dari hubungna gelap. Memang ya, yang namanya pergaulan tidak hanya mempengaruhi kelakuan tapi juga masa depan.

 Begitulah pergaulan di perkotaan. Sebenarnya tak hanya di perkotaan, di pedesaan pun mungkin juga mungkin sudah ada yang demikian. Tapi tak semua orang perkotaan juga demikian, tergantung pribadi masing-masing. Sehingga ketika sedang berada jauh dari orangtua, pintar-pintarlah memilih lingkungan. Pilihlah lingkungan yang sekiranya dapat membuat diri menjadi lebih baik. Juga jangan lupa selalu perkuat iman dan penjagaan diri. Agar dimanapun kamu, kamu tetap menjadi pribadi yang hebat.
#30DWC#30DWCJilid14#Day21
Depok, 11 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...