Langsung ke konten utama

Langit, Tolong Sampaikan

Lokasi Monas. Dokumentasi pribadi


Untuk saat ini, aku masih berjuang untuk selesai dengan diriku terlebih dahulu
Aku ingin mengenal diriku lebih dalam, mengerti letak kelebihan dan kekurangan, mengerti akan tujuan hidup ingin aku perjuangkan

Aku ingin belajar banyak hal terlebih dahulu. Aku ingin merasakan getir manisnya kehidupan yang aku jalani sendiri, agar aku bisa mengambil bayak hal dari situ. Agar nantinya aku bisa menjadi manusia yang lebih bijak, manusia yang belajar banyak dari kehidupan saat sendiri. Agar nanti akan menjadi bekal untukku di kehidupan selanjutnya, agar nanti aku bisa mengajarkan anak-anakku banyak hal dari kehidupan. Agar nantinya anak-anakku menjadi anak-anak yang mengerti kehidupan.
Langit, titipkan salamku padanya. Tolong sampaikan melalui hujanmu, bahwa sabar adalah hal terbaik yang diusahakan untuk saat ini.

Langit, titipkan rinduku padanya. Tolong sampaikan melalui malammu, bahwa doa di tengah malam yang damai adalah obat mujarab untuk mengobati.
Langit, titipkan pesanku padanya. Tolong sampaikan melalui langit pagimu, ingatkan dia untuk selalu bersemangat di pagi hari dan menghabiskan hari-hari untuk kegiatan bermanfaat.
Aku percaya, orang-orang yang satu tujuan akan bertemu dalam perjalanan. Maka, aku hanya ingin menjalankan apa-apa yang sudah aku rencanakan. Setiap hal ada waktunya sendiri. Seperti langit yang juga memiliki suasananya sendiri. Pagi yang penuh semangat, siang yang panasnya menyengat, juga malam yang penuh dengan hikmat.

Langit, terima kasih telah menjadi perantara kami. Terima kasih telah menjadi tempat doa-doa kami bertemu. Hingga nantinya, biarkan waktu yang akan menjawab, pada siapa kamu sampaikan salamku itu.

#30DWC#30DWCJilid14#Day26
Depok, 16 September 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...