Langsung ke konten utama

Krisis Usia 20an

sumber : www.google.com


Bagi yang sedang berusia 20an tahun, pasti mengalami perasaan galau usia 20an. Saya sendiri juga demikian. Ada 2 hal yang sering digalaukan oleh orang usia 20an, yaitu ke depannya akan berkarir apa dan akan menghabiskan hidup dengan siapa. Kedua keputusan tersebut merupakan bukan keputusan yang main-main. Sekali memutuskan, akan menjadi keputusan yang permanen. Sehingga perlu ikhtiar juga petunjuk agar tidak salah menyikapi krisis di usia ini dan agar tidak salah memilih.
Bagi saya, galau tentang karir dan teman hidup dapat teratasi jika kita sudah benar-benar mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Hal pertama yang harus dilakukan adalah set your life goals dulu. Tujuannya agar apa yang dikerjakan selaras dengan tujuan hidup. Karir adalah tools bukan tujuan, dan teman hidup adalah seseorang yang bisa menyeimbangkan langkah juga memiliki tujuan yang sama dengan kita.

Sehingga, hal terbaik untuk mengalihkan kegalauan di usia 20an adalah dengan memperbaiki diri dengan cara menata hidup, berusaha untuk mencapainya, sibuk untkuk mengupgrade kemampuan diri, dan lain sebagainya yang nantinya secara tidak langsung kita bakal mengetahui (si)apa yang sebenarnya kita butuhkan. Sehingga pertimbangan yang kita pilih nantinya dalam memilih karir ataupun teman hidup adalah pertimbangan-pertimbangan yang selaras dengan tujuan hidup, bukan lagi pertimbangan-pertimbangan sesuai dengan nafsu. Seperti alasan suka sama suka, dan ganteng sama cantik.

Saya sendiri sedang berusaha untuk mengontrol diri agar tetap pada prinsip saya. Walaupun di luar sana godaan sangat besar. Seperti ketika sudah ada yang mulai mencari-cari dengan cara yang menurut saya pasaran (kirim chat, ngajak ngedate, modus minjam buku catatatan :v), ya diri ini sedang berupaya sekuat tenaga untuk tetap setia pada prinsip. Doakan semoga istiqomah dan semoga krisis di usia 20an segera menemui muaranya.

#30DWC#30DWCJilid14#Day25
Depok, 15 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 19 : tidak berjudul

Aku tidak menjamin bisa seperti mereka. Karena I life with myself.  Tetapi setidaknya aku sedang berproses untuk bertumbuh setiap harinya. Meski hanya 1 mm. Aku juga tidak yakin, pertumbuhanku setiap hari bisa membuatku layak. Tetapi aku yakin, apa yang aku lakukan hari ini tidak ada yang sia-sia. Apa yang aku lakukan hari ini semoga bisa mengubah masa depanku, walaupun hanya sedikit. Sesuatu yang sangat aku khawatirkan. Rumah, 12 Mei 2020 19 Ramadhan 1441 H