Langsung ke konten utama

Matahari di ujung senja

Daerah monas. Dokumentasi pribadi
Jika matahari sudah di ujung senja, matahari akan tenggelam, hari akan berganti gelap.Matahari akan hilang, lenyap bersama semburat jingga  yang menyala sebelumnya.
Orang-orang ingin segera kembali ke tempat yang bernama rumah untuk melepas lelah.

Jika matahari sudah diujung senja, menandakan hari ini sudah habis. Perjuangan seharian telah habis. Kesempatan untuk melakukan kebaikan di siang hari sudah habis.

Jika matahari sudah di ujung senja, apa yang bisa kamu lakukan ? Bagaimana jika kamu besok tidak bertemu dengan pagi lagi ?
Apakah kamu menyesal karena telah melewatkan hari yang ternyata menjadi hari terakhirmu ?

Ya, matahari di ujung senja adalah sebagai pengingat diri. Tentang umur yang juga tak selamanya pagi, tapi juga siang dan senja. Ah,tapi kepergian tidak melihat umur. 
Tapi setidaknya dengan adanya konsep matahari yang ada di ujung senja, saya manjadi belajar.

Bahwa jika nanti usia juga sudah berada di ujung senja, tidak ada yang bisa dilakukan selain tetap berusaha di sisa-sisa waktu terakhir dan merenungi kehidupan yang telah berjalan. Sudah melakukan apa sajakah saya seharian ini? Apakah saya sudah memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat ? Begitulah, kehidupan di ujung senja. Penuh dengan perenungan tentang apa yang sudah dilakukan. Begitupula kehidupan, yang nantinya juga akan berada di ujung senja, yang nantinya juga tenggelam. Maka, manfaatkan waktu saat ini untuk melakukan banyak kebaikan. Agar nanti, ketika sudah di ujung senja, tidak menyesal dengan apa yang sudah dilakukan. Tapi bahagia dan puas karena sudah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Sehingga jika nanti waktunya akan tenggelam, akan tenggelam sebagai sosok pemenang kehidupan.

#30DWC#30DWCJilid14#Day27
Depok, 17 September 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan Day 22 : Ke Kota

Tidak ada yang bisa duduk tenang. Hujan deras menghimpun cemas di pintu stasiun. Kereta seharusnya datang 5 menit yang lalu. Terkadang, satu menit menunggu terasa lebih merugikan daripada seumur hidup berlalu sia-sia. Seorang pemuda menyalami seorang bapak yang kupikir adalah orangtuanya. Sang bapak melambaikan tangan. Bersedih. Senyum getirnya memunculkan keriput. Si pemuda membalas dengan lambaian yang sama. Tetapi sumringah. Senyum bahagianya memunculkan rona merah. Seolah ia sedang berpura-pura lupa bahwa pria berkeriput itu telah menua. Begitu pun mimpi-mimpi yang menunggunya di kota. Demikian pikirnya, barangkali. Berjarak satu sama lain bukanlah pilihan sulit bagi sebagian orang. Jauh dan dekat hanya soal hitungan kilometer. Berbagai moda melipat jarak bagai kertas. Tetapi seringkali, jarak tidak bekerja seperti itu. Ia mengganti peta dalam pikiranmu dengan ilusi. Jauh dekat bukan lagi dihitung melalui kilometer. Meski ia disampingmu, tapi seringkali ia terasa jauh. Sejauh ...

Ramadhan Day 25 : Tantangan Itu Biasa, Menyelesaikannya itu Istimewa

FIK UI 2015 wisuda. dokumentasi pribadi Pernah tidak dalam hidupmu kamu membuat keputusan yang menurutmu paling menantang ? Aku pernah yaitu saat memutuskan aku mengikuti profesi ners. Bagiku itu adalah keputusan besar yang membentuk diriku di hari ini. Setahun yang lalu, di saat yang sama aku sedang sibuk merevisi proposal skripsiku dan merayu dosen pembimbing agar aku bisa sidang akhir Mei. Singkat cerita aku bisa sidang di akhir Mei. Aku merasa aku menang. Aku berhasil melewati salah 1 fase terberatku, yaitu skripsi. Namun setelah itu muncul pertanyaan baru lagi, what's next ? Bagi mahasiswa keperawatan, wisuda sarjana bukanlah akhir dari masa perkuliahan. Justru ini awal kehidupan yang sesungguhnya. Setelah menimbang berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti profesi, karena jalan mimpiku yang selanjutnya memang harus dilalui melalui profesi. Iya, aku harus mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) agar aku dapat bekerja sebagai praktisi. Untuk mend...

Ramadhan Day 9 : Dear Me,

sumber : unsplash.com Ada kalanya aku ingin menjadi aku yang masih berumur 10 tahun. Saat itu aku masih kelas 5 SD. Saat segalanya begitu menyenangkan. Saat segalanya begitu sederhana. Saat raga dan jiwa tak perlu saling tentang. Saat mulut dan hati tak perlu saling berpura-pura. Saat aku sedang suka-sukanya membaca buku pelajaran, apalagi buku pelajaran Bahasa Indonesia. Aku suka, karena di sana banyak cerita. Dengan membaca cerita, aku seperti jalan-jalan. Aku senang saat pelajaran IPA, terutama tentang tumbuh-tumbuhan. Saat itu, aku menjadi rajin meminjam buku ensiklopedia di perpus tentang bonsai, tanaman-tanaman yang tumbuh di dunia, dan juga hewan-hewan. Oh ya aku ingat, aku juga penasaran dengan planet-planet dan luar angkasa. Lantas aku meminjam buku ensiklopedia tentang itu. Dari buku itulah aku kenal dengan yang namanya negara-negara luar dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sana. Aku juga jadi mengetahui tentang tata surya. Tak hanya itu, aku juga suka dengan pelajaran I...